Imbauan pemerintah agar para peraih medali olimpiade tak lagi turun di PON tak digubris para pengurus induk olahraga. Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABBSI) masih 'menghalalkan' para peraih medali olimpiade turun di PON XIX/2016 Jabar.
Sri Wahyuni Agustiani peraih perak dari Olimpiade Rio de Janeiro, Eko Yuli Irawan yang meraih perak juga dari Rio dan dua perunggu dari Olimpiade London dan Beijing, Triyatno yang memiliki perak dan perunggu dari dua olimpiade terakhir, adalah para lifter yang tampil di PON Jabar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus...harus mereka harus bawa level Olimpiade ke PON," kata Alamsyah, Selasa (20/9/2016).
"Sekarang kita harus buat kompetisi yang kompetitif di PON, kalau mereka-mereka ini tidak bermain di level kompetisi olympic di kampungnya sendiri, kapan lagi dia main? Bener gak? Makanya saya tidak ingin melimit. Coba dimana bisa level PON yang bisa memasukkan level olimpiade kelas 62 dan 69? cuma Indonesia dan China. Karenanya saya tidak ingin membatasi," Alamsyah menjelaskan.
Alamsyah sendiri tidak menjadikan PON hanya sekadar pesta olahraga nasional. Tapi lebih dari itu sebagai puncaknya kompetisi nasional.
"Jadi kalau dibilang sebagai ajang pembibitan baru ya tidak. Kan ada PON remaja. Jadi saya tidak sepakat dengan statment pemerintah yang mengatakan atlet Olimpiade tidak boleh main di PON," ucapnya.
Berbeda, Direktur High Perfomance Program Satlak Prima, Hadi Wihardja, sepakat dengan keinginan pemerintah sejauh kepentingan daerah tidak dominan.
"Sekarang seperti Jawa Timur saja kalau tidak ada Eko (Yuli Irawan), mungkin tidak ada medali. Jadi daerah juga mesti diedukasi juga," kata Hadi, terpisah.
Tapi di luar itu sebenarnya diharapkan atlet muda yang mengikuti PON bisa mendapat aura pertandingan yang sebenarnya dan prestasi mereka diharapkan bisa capai 10 persen dari sang juara.
(mcy/fem)










































