detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 28 Sep 2016 16:50 WIB

Dilema Rini Budiarti dengan Wacana Pembatasan Usia Atlet PON

Mercy Raya - detikSport
Foto: PB PON/ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Bandung - Sudah berkepala tiga, Rini Budiarti mengukuhkan diri sebagai pelari putri nomor jarak menengah terbaik tanah air. Wacana pembatasan usia buat atlet PON tak bisa dimungkiri menempatkan Rini kepada situasi dilematis.

Rini genap berusia 33 tahun pada 22 Januari tahun ini. Dia juga sudah berstatus sebagai istri dan seorang ibu.

Namun faktanya, Rini masih yang terbaik dalam persaingan nomor 1.500 meter, 800 meter, 3.000 meter, dan 5.000 meter. Dialah yang menguasai medali emas dari nomor-nomor itu pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016.

Melihat catatan waktu yang dibuat Rini dalam empat nomor itu, boleh dibilang pemegang rekor nasional di nomor 1.500 dan 3.000 meter tersebut tak punya pesaing berarti. Meski demikian, Rini justru berbesar hati jika wacana pembatasan usia itu benar-benar menjadi kenyataan. Dia meminta agar jika kebijakan itu benar-benar berlaku jangan sampai justru mematikan potensi atlet yang tengah berada pada usia emas.

"Usia emas para atlet atletik itu 23-27 tahun. Saya sendiri 33 tahun dan fakta di lapangan menunjukkan kalau gap saya dengan yang muda-muda masih sangat jauh," kata Rini dalam obrolan degan detikSport, Rabu (28/9/2016).

"Dengan fakta seperti itu sekarang malah muncul wacana untuk membatasi atlet atletik di PON maksimal 24 tahun. Kalau batasan usia itu, apa yang mau didapatkan?

"Kalau dibatasi usia 24 itu justru dikhawatirkan para atlet kehilangan motivasi. Pada usia itu, biasanya usia yang bagus untuk berprestasi. Kalau ada paksaan malah bisa jadi fatal akibatnya. Mereka sudah berlatih keras dan malah tidak bisa tampil mewakili daerahnya yang akhirnya jadi tidak mencapai puncak prestasi," tambah wanita kelahiran Gunung Kidul tersebut.

Selain soal usia, wacana pembatasan atlet juga mengarah kepada para peraih medali Asian Games dan Olimpiade. Para olimpian yang berhasil menyumbangkan medali diusulkan untuk tak perlu tampil di PON. Soal ini pun Rini menilai ada sisi baik dan buruknya.

"Memang kalau dilihat levelnya cukup menggelikan ketika atlet daerah harus bersaing dengan atlet nasional. Levelnya jelas berbeda. Tapi, terkait kesejahteraan kita tidak bisa memungkirinya," kata Rini.

"Sebagai gambaran, soal bonus saja DKI berani memberikan bonus lebih besar kepada peraih emas PON ketimbang emas SEA Games. Padahal persaingannya lebih berat di level yang lebih tinggi. Wacana itu menjadi logis kalau para atlet SEA Games dan Asian Games serta Olimpiade sudah terjamin kesejahterannya. Kami, para atlet, tidak perlu khawatir dengan masa depan.

"Tapi jika umpamanya dari segi kehidupannya masih luntang lantung, lalu PON tak boleh ikut. Kasihan juga. Masa atlet SEA Games kalah dengan atlet PON. Kan lucu jadinya. Ibaratnya di SEA Games atau Asian Games kita sudah 'mandi darah' tapi penghasilannya kalah dari atlet PON. Kan tidak pas saja. Yang oke itu kalau pemerintah memberikan apresiasi yang lebih besar kepada atlet SEA Games dan Asian Games, kalau itu tak apa-apa," ucap Rini.


(fem/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com