Dari pantauan detikSport di dua hari pertama gelaran TAFISA Wolrd Games 2016, jumlah penonton yang menyaksikan pertandingan-pertandingan atau pertunjukan eksebisi masih sangat minim. Hampir di setiap venue hanya diramaikan oleh panitia saja. Sementara penonton bisa dihitung jari.
Keluhan akan minimnya penonton terlontar dari salah satu peserta. Guido van Alsenoy, peserta cabang verticale archery tradisional games dari Belgia, menuturkan itu..
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ada 22 cabang tradisional games dari Belgia. Namun di TAFISA Games kali ini, kami hanya menampilkan satu permainan saja karena peralatan untuk cabang lainnya sangat berat," kata Alsenoy.
Sayangnya, antusias Alsenoy dkk berbanding terbaik dengan keramaian yang ada di kawasan Ancol. Alsenoy menyayangkan minimnya penonton atau pengunjung yang datang ke acara TAFISA ini.
"Saya tidak tahu akan tampil jam berapa dan kapan. Sejauh ini pengunjung hanya panitia saja dan yang mencoba pun hanya sesama peserta saja," ungkap Asenoy.
"Padahal kami ke sini hanya ingin mengenalkan olahraga kami (Belgia) bahwa ini adalah betul-betul olahraga, jadi bukan hanya cabang Olimpiade saja," lanjut dia.
Menanggapi itu, Menpora Imam Nahrawi mengatakan keluhan-keluhan ini akan menjadi evaluasi panitia pelaksana dan Kemenpora. Kendati dia juga mengkritik cara kerja panitia pelaksana.
"Saya kira itu juga menjadi kekhawatiran saya sejak awal ini tempat rekreasi. Setiap orang ketika masuk tempat rekreasi pasti sudah punya tujuan, lokasi mana yang mau didatangi. Tetapi dengan adanya tambahan acara namanya TAFISA World Games ini harusnya semakin digencarkan promosinya." ucap Imam.
"Mungkin di setiap gerbang itu semestinya ketika orang masuk harus ada brosur atau apa. Tapi rupanya tidak dilakukan, saya kira ini menjadi koreksi kita semua," ungkap dia.
"Saya harap dengan sisa waktu 4-5 hari ini bisa dimanfaatkan panitia pelaksana untuk mempromosikan TAFISA ini," imbuh Imam.
Ini bukan kali pertama Imam mempertanyakan promosi dan sosialisasi TAFISA yang dirasanya sangat kurang. Meski bertajuk Olimpiade-nya olahraga rekreasi dan tradisional, gaungnya sangat minim terasa. Sementara Panpel berdalih dengan alasan klasik, yaitu ketersediaan anggaran sehingga sosialisasi tidak bisa dilakukan secara optimal. Padahal Jakarta sudah ditunjuk sebagaituan rumah TAFISA sejak November 2011. (mcy/din)











































