Dzaki, 28 tahun, finis kedua di belakang sang pemenang Jan Nielsen, setelah membukukan waktu 21 jam 58 menit 42 detik. Sedangkan Fauzi (26) melintasi garis finis ketiga dengan catatan waktu 22 jam 38 menit 04 detik.
"Saya dan Fauzi start dari paling belakang," ungkap Dzaki. "Bagaimana caranya kami supaya tidak terpancing [untuk ngebut]. Lalu salip satu per satu setelah menunggu yang berada di depan kelelahan."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dzaki dan Fauzi sama-sama berangkat dari Yogyakarta dan mengaku sering berlatih bersama. Dalam kompetisi ini, mereka juga tanpa perlengkapan lengkap seperti tidak membawa tracking poles.
Padahal, start kategori 100K dilakukan pada Sabtu (9/10/2016) pukul 05.00 WIB dan hujan nyaris turun di sepanjang hari. Namun, rupanya kekurangan perlengkapan bukan halangan bagi mereka.
"Paling berat saat pulang dari Merbabu karena badai. Kacamata saya juga hilang karena terjatuh akibat pandangan yang sulit karena kabut," kata Dzaki.
"Kalau saya tidak merasa ada kendala karena dari awal memang berharap hujan karena tidak akan dehidrasi," ujar Fauzi. "Merapi yang paling teknikal, tapi yang paling membuat lelah ketika balik ke Merbabu." (rin/mfi)











































