Berdasarkan surat yang dikirimkan kepada gubernur Jawa Tengah pada 14 Oktober lalu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tidak merekomendasikan PON Remaja II, yang dijadwalkan digelar pada Juni 2017. Sebab, event tersebut "mirip" dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS), yang juga akan dihajat tahun depan di Jawa Tengah, pada bulan September.
Selain tempatnya sama dan waktunya berdekatan, sasaran kedua pekan olahraga tersebut adalah kalangan junior dengan batasan usia yang sangat berdekatan β di bawah 17 tahun. Itu sebabnya, agar efektif dan efisien, mengadakan dua event serupa tidaklah signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itulah dipandang perlu hanya lebih mememilih event POPNAS daripada PON Remaja, namun dengan kualitas pembinaan yang lebih baik," demikian pernyataan Kemenpora.
Begitu mengetahui hal tersebut KONI langsung mengumpulkan para pengurus provinsi di Jakarta dan mengadakan rapat koordinasi hari ini, Kamis (20/10) siang. Mereka juga mengundang Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto.
Meski negara tetap tidak merekomendasi, KONI sepertinya tidak kehilangan akal untuk tetap melanjutkan hajatannya. Menurut ketua umumnya, Tono Suratman, hampir seluruh KONI provinsi menginginkan PON Remaja berjalan walau tanpa anggaran dari pemerintah pusat.
"Ini karena berkaitan dengan program yang telah dilaksanakan tiga tahun sebelumnya. Mereka sudah melaksanakan semua kegiatan termasuk membangun sarana prasarana di daerah masing-masing dan mereka telah menyiapkan atlet-atlet muda," kata Tono, usai rapat.
Menurut Tono, ajang ini penting untuk dilanjutkan guna mencari bibit-bibit baru Indonesia, yang mana ke depan diproyeksikan ke Asian Youth Games dan Olympic Youth Games. Bahwa anggaran yang diberikan kepada PON Remaja dialihkan, pihaknya akan mencarinya lewat daerah.
"Gubernur Jawa Tengah masih ada anggarannya. Artinya masih peluang karena keputusan itu baru diketahui pada 1 November untuk anggaran daerah," ujar dia.
"Bisa juga dari pemerintah daerah masing-masing, bisa fifty-fifty, bisa 1/3 atau 2/3 dari tuan rumah. Masih banyak solusi. Tapi pada prinsipnya pemerintah daerah berkontribusi untuk PON Remaja. Karena ini bukan semata-mata kepentingan KON, tapi kepentingan negara. Kami melakukan ini berdasarkan Musyawarah Nasional dan sudah ditetapkan sejak 2010.
"Mungkin saja nanti kita melaksanakannya sesederhana mungkin, seperti tidak perlu ada kembang api. Kita hanya perlu melakukan dengan cabang-cabang unggulan karena atlet muda kita ini sudah menyiapkan diri, mereka sudah berlatih dan sudah menyisakan waktu antara latihan dan belajar, karena atlet usia muda yang kami siapkan ini bukan sekadar prestasi tetapi karakternya kami bangun untuk masa depan mereka," imbuhnya.
Dikatakan Gatot, hingga kini rekomendasi pemerintah tidak berubah. Mereka hanya mempersilakan KONI melanjutkan PON Remaja, namun negara tidak memberi bantuan pendanaan.
"Sampai hari ini rekomendasi Menpora tetap, tidak ada perubahan. Tapi kami memberikan ruang, kalau pun mereka tetap ingin melaksanakan PON Remaja, ya silakan. Tapi kami tidak menganggarkan," kata Gatot, usai rapat.
"Alasan kami karena efisiensi. Alasan lain akan ada POPNAS yang berdekatan jadwalnya. Pemainnya juga beda-beda tipis. Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah ini bagian dari pembinaan sentra olahraga. Tapi kalau mereka tetap (akan) melakukan, ya monggo (silakan). 'Kan tidak ada larangan dari kami bahwa KONI dilarang mengadakan PON Remaja," tambahnya.
Ada usulan yang disampaikan oleh Dhimam Abror Djuraid dari KONI Jawa Timur, agar kedua event tersebut diintegrasikan, ketimbang merekomendasikan salah satu saja.
"Silakan saja, tapi namanya tetap POPNAS," cetus Gatot.
Senada, Menpora Imam Nahrawi menekankan prinsip efisiensi terkait hal ini. Apalagi negara juga sudah memutuskan untuk fokus pada olimpiade dan berkewajiban mengarahkan setiap pengembangan olahraga menuju ke sana.
"Jangan sampai ada anggaran yang tumpang tindih, pembinaannya juga, karena ini demi efisiensi. Sebab, kalau buat (PON Remaja), dari mana duitnya? Kami tidak melarang. Katakanlah itu hajat KONI. Tapi mohon maaf, duitnya kami akan konsentrasi ke POPNAS," ucap Imam.
(mcy/a2s)