Seperti disampaikan Kepala Komunikasi Publik Kemenpora Gatot S. Dewa Broto, perintah itu merupakan bentuk respons Menpora atas keluhan-keluhan yang muncul pada saat rapat dengan Ketua Tim Ad-Hoc Pembangunan Olympic Center Syahkyan Asmara, serta sejumlah pejabat terkait, Kamis (24/11/2016) kemarin. Rapat yang membahas mengenai perkembangan pembangunan Olympic Center itu juga dihadiri Ketua Satlak Achmad Soetjipto dan wakil Satlak Prima Lukman Niode.
"Poinnya adalah karena kebutuhannya juga sudah mendesak untuk persiapan atlet juga menuju SEA Games dan Asian Games dan beberapa cabor mulai 1 Desember sudah ada yang masuk ke OC jadi perlu ada percepatan," kata Gatot kepada detikSport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk diketahui, Manajer PB PABBSI Alamsyah Wijaya keberatan memanfaatkan wisma Soedegondo Djojopoespito sebagai tempat tinggal atletnya di kawasan Olympic Center karena cenderung sempit. Kamar itu berisi dua tempat tidur, televisi, dan kamar mandi di dalamnya.
Tak jauh berbeda dengan PABBSI, cabang taekwondo juga mengeluhkan hal serupa. Cabor yang sehari-hari sudah menggunakan Gedung Pemudi di PP PON (Olympic Center) untuk latihan dan wisma Soedegondo ini harus pindah tempat beberapa kali karena tempat latihan dan penginapannya disewakan untuk kegiatan lain. Mereka pun memutuskan menyewa villa yang jaraknya tidak jauh dari tempat latihan.
"Ya, makanya nanti kami akan buat semua paling tidak agak convenion," ucap Gatot.
Sehubungan dengan itu, rencananya Kemenpora akan menerbitkan Keputusan Menteri tentang cabor-cabor yang akan diakomodasi di Olympic Center pada pekan depan. Sebab jika tidak ada produk hukumnya akan mudah untuk menjadi pertanyaan.
"Misalnya cabor A masuk OC, lalu mana dasar hukumnya, kok hanya cabor ini yang diakomodasi di OC, dan sebagainya," tutur Gatot.
(mcy/krs)











































