Tuan Rumah Olimpiade, Kebanggaan atau Pemborosan?

Laporan dari Jepang

Tuan Rumah Olimpiade, Kebanggaan atau Pemborosan?

Doni Wahyudi - Sport
Kamis, 26 Jan 2017 00:32 WIB
Tuan Rumah Olimpiade, Kebanggaan atau Pemborosan?
Foto: REUTERS/Fabrizio Bensch
Tokyo - Menjadi tuan rumah Olimpiade menjadi kebanggaan tersendiri buat warga Jepang. Tapi, buat penduduk yang lain, event itu tak lebih dari sekadar pemborosan uang.

Kota Tokyo terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 setelah mengalahkan Istanbul (Turki) dan Madrid (Spanyol). Seperti halnya kota-kota di negara lain yang terpilih menjadi tuan rumah event olahraga besar, warga Tokyo menyambut ajang tersebut dengan antusias.

Kehadiran ribuan atlet dari seluruh penjuru dunia adalah daya tarik tersendiri. Belum lagi pertandingan-pertandingan yang melibatkan atlet-atlet top.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya ingin melihat pertandingan tingkat dunia. Saya menantikan Olimpiade 2020 di Tokyo. Saya setuju (Tokyo jadi tuan rumah Olimpiade)," ucap Kawanishi Kaoru, salah satu koordinator JENESYS yang memandu kami selama di Jepang.

Selain kemeriahan sebagai tuan rumah, Olimpiade juga menjadi sebuah kebanggaan besar buat Tokyo dan Jepang. Namun bukan berarti seluruh warga Tokyo menyambutnya dengan hangat.

"Menurut saya pribadi, kalau saya lihat sisi bisnis sport, sebenarnya penyelenggaraan Olimpiade itu butuh dana besar dan akan muncul kerugian yang besar. Menurut saya, lebih baik tidak laksanakan Olimpiade," timpal Tomohiron Matsuda, Kepala Program Pertukaran Pemuda JENESYS.
Tuan Rumah Olimpiade, Kebanggaan atau Pemborosan?Foto: Matsuda (detikSport/Doni Wahyudi)

Memiliki latar belakang pendidikan Sport Marketing, Matsuda menilai gelaran Olimpiade 2020 hanya pemborosan besar. Menurut catatan, Pemerintah Kota Tokyo menganggarkan 400 miliar yen untuk menjadi tuan rumah Olimpiade.

"Kalau Brasil, atau negara berkembang lainnya menjadi tuan rumah Olimpiade, itu mungkin hal yang bagus karena mereka masih terus membangun infrastruktur. Tapi, tidak untuk negara seperti Jepang. Itu memang menjadi sebuah kebanggaan untuk negara, tapi tidak memberikan keuntungan," lanjut dia.

"Anda tahu banyak sarana olahraga yang baru dibangun untuk event seperti Olimpiade tapi kemudian dia tak terpakai. Tak bisa digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan setelah eventnya selesai. Dan pada akhirnya jadi tak terurus begitu saja," terangnya lagi.

Terlepas dari sikap warga Tokyo terhadap Olimpiade, yang datang sekitar tiga tahun lagi, pemerintah setempat sudah mulai menggaungkan acara akbar tersebut. Meski belum banyak, beragam atribut dan logo Olimpiade 2020 sudah bisa ditemui di beberapa sudut kota.

(din/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads