Laporan dari Jepang

Jepang Memanjakan Atlet dengan Teknologi dan Sport Science

Doni Wahyudi - Sport
Sabtu, 28 Jan 2017 00:18 WIB
Foto: detikSport/Doni Wahyudi
Tokyo - Memperlakukan atlet dengan baik bukan sekadar perkara materi. Yang penting namun sering terlupakan adalah memberikan dukungan penuh pada beragam kebutuhan mereka.

Itulah yang sudah dilakukan Jepang selama hampir dua dekade terakhir. Sebagaimana mereka menyadari bahwa mimpi menjuarai Piala Dunia harus dipupuk puluhan tahun sebelumnya, upaya menciptakan atlet-atlet yang bisa bersaing di level dunia pun perlu dilakukan dengan upaya khusus.

(Baca juga: Sepakbola Indonesia Sudah Ketinggalan 100 Tahun dari Jepang)

Berbicara soal peta kekuatan olahraga di Benua Asia, China masih merajai dan sepertinya belum akan tergusur dalam waktu dekat. Tapi Jepang saat ini tengah berupaya untuk merebut status tersebut melalui keunggulan mereka di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.

Terletak di wilayah suburb Kota Tokyo, Jepang memiliki sebuah fasilitas mutakhir untuk meningkatkan kemampuan atlet. Diresmikan pada 2001, fasilitas ini sudah menghasilkan banyak Olimpian yang pulang membawa medali emas Olimpiade.

Fasilitas ini memiliki dua lingkup operasi besar, yakni (1) sebagai tempat penelitian dan pendukung untuk mencetak atlet Jepang yang lebih tangguh, serta (2) meningkatkan daya kompetitif atlet-atlet Jepang di level internasional.

'Everything we do is for the top athletes'. Demikian jargon fasilitas tersebut, yang menunjukkan keseriusannya dalam mencetak atlet-atlet level dunia. Tidak semua atlet bisa masuk fasilitas ini. Disebutkan kalau hanya mereka atlet top yang bisa tersaring, meski mereka juga menampung atlet muda yang dinilai penuh potensi.

Mencakup area yang sangat luas, fasilitas mutakhir untuk atet-atlet Jepang ini terdiri dari enam bangunan utama. High performace gym adalah salah satu keunggulan fasilitas ini. Pada ruangan ini seluruh aktivitas atlet dipatau menggunakan video dan beragam sensor. Video tersebut nantinya akan di-review bersama oleh atlet, pelatih, dan ahli di bidang lain yang pada akhirnya akan membuat atlet memiliki performa lebih baik.

Berbicara soal lab, fasilitan ini punya tujuh laboratorium. Mulai dari Environment Research Lab, Phsyiologi Lab, Biochemistry Lab, Sport Psychology Lab, Human Performance Lab, Anthropometry Lab, Biomechanics, dan Wind Tunnel Lab. Betul, seakan tak mau kalah dengan tim-tim Formula 1, mereka memiliki wind tunnel sendiri.

Tapi kondisi fisik dan performa yang prima tidak akan ada artinya jika kondisi psikologis atlet tidak ikut dikembangkan. Karena atlet juga perlu diperhatikan perihal kondisi kejiwaannya, maka mereka juga memiliki ruangan konseling sendiri. Selain itu ada juga ruang pemeriksaan radiologi (MRI, CT Scan, BMD).

Bagi atlet putri, mereka dapat merasakan program tambahan lainnya untuk mendukung performa di atas lapangan. Salah satunya adalah 'children support for female athletes', yaitu penyediaan ruang perawatan untuk anak-anak atlet putri sehingga mereka yang sudah menjadi ibu tetap bisa fokus berlatih.

Baru berusia sekitar 16 tahun, fasilitas mutakhir ini sudah menunjukkan hasil. Pada Olimpiade 2016 lalu Jepang berhasil memecahkan rekor jumlah medali yang diraih. Total 41 medali dikumpulkan atlet-atlet Jepang di Brasil tahun lalu, angka tersebut melebihi rekor sebelumnya yakni 38 medali yang didapat pada Olimpiade London. Namun begitu, Jepang belum bisa menyamai rekor jumlah medali emas terbaik mereka yakni 16 emas pada Olimpiade Athena 2004. Di Brasil, Jepang 'hanya' dapat 12 emas.

Di Olimpiade 2016 Jepang masih mengandalkan judo sebagai cabang pengumpul medali terbanyak (12 medali, termasuk 3 emas). Tapi mereka menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan di cabang lain. Itu bisa dilihat dari beberapa medali baru yang diraih.

Jepang untuk kali pertama meraih medali di cabang kano nomor slalom (perunggu), dan juga emas pertama di cabang badminton (Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo). Sementara estafet putra 4 x100 meter juga membuat kejutan dengan meraih perak.
Jepang Memanjakan Atlet dengan Teknologi dan <i>Sport Science</i>Foto: Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo (Getty Images/David Ramos)

Untuk Olimpiade 2020 mendatang JOC (Japan Olympic Comitte) menargetkan 20 medali emas. Jika berpatokan pada hasil Olimpiade 2016, dengan 20 emas Jepang akan masuk posisi empat besar.

Jepang pantas optimistis dengan target tersebut. Kembali ke hasil yang didapat pada Olimpiade 2016, atlet-atlet muda mereka menunjukkan prestasi yang menjanjikan. Tiga pegulat mereka - Sara Dosho, Eri Tosaka, dan Risako Kawai - yang baru berumur awal 20-an bisa mempersembahkan emas. Sementara Mima Ito yang baru 15 tahun membantu negaranya meraih perunggu di tenis meja tim putri.

(din/mfi)