Tuntutlah Ilmu (Olahraga) Hingga ke Jepang

Tuntutlah Ilmu (Olahraga) Hingga ke Jepang

Doni Wahyudi - Sport
Minggu, 29 Jan 2017 08:40 WIB
Tuntutlah Ilmu (Olahraga) Hingga ke Jepang
Foto: Detiksport/Doni Wahyudi
Hakuba - Jepang memiliki fasilitas olahraga mutakhir yang bisa dibilang memberikan segalanya buat atlet. Indonesia sudah seharusnya belajar dari negara matahari terbit itu.

Beberapa wartawan dan atlet asal Indonesia pada akhir Januari ini dapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah fasilitas olahraga di Jepang. Yang kami kunjungi bukan fasilitas olahraga biasa, karena fasilitas tersebut didukung pemanfaatan teknologi mutakhir.

Sport science menjadi pondasi dari semua aktivitas di fasilitas olahraga tersebut. Upaya peningkatan performa atlet sampai langkah-langkah pemulihan cedera semua mengandalkan teknologi canggih. Tujuh buah laboratorium yang berada di sana menunjukkan betapa besar peran ilmu pengetahuan (dan teknologi) dalam mendukung atlet-atletnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tuntutlah Ilmu (Olahraga) Hingga ke JepangFoto: Detiksport/Doni Wahyudi

Keberadaan fasilitas ini dinilai penting bukan hanya demi meraih prestasi setinggi-tingginya. Fasiltas olahraga ultra modern ini dianggap sebagai bentuk perhatian serius dari pihak terkait pada atlet.

"Sangat terkesan sekali (dengan fasilitas yang dimiliki Jepang). Fasilitas dan dukungan dari institusinya sangat luar biasa. Dibanding Indonesia jauh banget. Manajemen tertata. Setiap yang dibutuhkan atlet ada semua di situ. Kalau di negara kita kan atlet sakit kadang didiemin aja. Kalau di sini (Jepang) ada medicalnya, ada ilmu gizinya," ucap Toga Pramandita, atlet Judo Indonesia yang berpartisipasi dalam kunjungan tersebut.

Usai melakukan kunjungan ke fasilitas tersebut, Toga berharap pemerintah Indonesia bisa melakukan study banding. Bukan hanya ke Jepang tapi juga ke negara lain dengan pemanfaatan teknologi olahraga sangat tinggi.

"Semoga pemerintah bisalah study banding ke beberapa negara yang lebih maju seperti inikan. Paling tidak mendekatilah (Jepang), tidak usah sama. Dan terus dijaga juga perawatannya, Itu juga perawatan tidak sedkit yang seperti itu," lanjut atlet asal Yogyakarta itu.

"Sedikit sekali (pemanfaatan sport science), kalau dibandingkan dengan di sini paling 10-20%. Apalagi di daerah, jauh sekali, kebetulan saya orang daerah kan, di dareah nol lah. Latihan konfensional saja. Apalagi cedera juga konfensional. Paling (dibawa ke) tukang urut selesai, remason sudah," curhat atlet judo itu.

Hal senada diucapkan oleh Samsul Bachri Sani. Kepala Pelatih di PPOP Ragunan itu berharap segera ada perubahan dalam pemberian perhatian pada atlet.

"Saya berharap semoga Indonesia bisa meniru dalam organisasi olahraga Jepang. Yang dibuat oleh Jepang, kita sangat tertinggal jauh. Saya harap ada perubahan," ucap Samsul.


(din/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads