DetikSport
Jumat 17 Februari 2017, 17:37 WIB

Asian Games 2018 Butuh Dana Rp 8 Triliun, Namun Sumber Masih Gelap

Mercy Raya - detikSport
Asian Games 2018 Butuh Dana Rp 8 Triliun, Namun Sumber Masih Gelap Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Persiapan penyelenggaraan Asian Games 2018 di ujung tanduk. 18 bulan jelang perhelatan, panitia lokal Asian Games (INASGOC) belum bisa menemukan solusi pengadaan dana.

Wakil Ketua II INASGOC, Gatot S. Dewa Broto, yang juga Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, di Kantor PP Itkon Senayan, Jumat (17/2/2017) mengatakan mereka membutuhkan dana untuk menyelenggarakan Asian Games mencapai Rp 8 triliun. Dana itu dibutuhkan untuk sosialisasi Asian Games, test event, hingga perhelatan pada hari H.

Beberapa detail kebutuhan saat pelaksaan Asian Games 2018 adalah upacara pembukaan dan penutupan dan sewa venue. Besaran dana itu di luar renovasi Gelora Bung Karno, yang disebut-sebut menghabiskan anggaran sekitar Rp 2,5 triliun.

"Kami belum tahu dapat dari mana (untuk mencari Rp 8 triliun). Sebab, anggaran Kemenpora tahun ini sudah terpatok hanya sekitar Rp 3 triliun," kata Gatot.

Dana itu jauh dari anggaran pemerintah untuk INASGOC senilai Rp 500 miliar. Itu pun belum bisa dicairkan karena masih menunggu Peraturan Presiden yang rencananya baru ada Maret 2017. Sementara sisa dana Rp 7,5 triliun belum dipastikan akan diambil dari pos mana.

"Sebetulnya sudah beberapa kali kami revisi dan draft sudah masuk di Sekretaris Kabinet, mereka juga sudah proaktif. Tetapi faktanya memang ada yang kurang khususnya redaksional. Tapi jangan menyalahkan Sekab karena mereka sudah sangat proaktif," ungkap dia.

Diakui Gatot, angka Rp 8 triliun sendiri sebenarnya sudah pernah dipaparkan Ketua INASGOC pada rapat dengan Komisi X DPR RI pada tahun lalu. Saat itu, INASGOC telah membuat Rancangan Anggaran Biaya Asian Games 2016. Namun, hasil risalah dari DPR belum menyatakan persetujuan.

"Sudah pernah diajukan yang tersebut memang angka Rp 8 triliun. Tetapi belum ada persetujuan," tutur Gatot.

Menurut Gatot kemungkinan terbesar 70% kebutuhan dana itu dipenuhi dari APBN dan APBD, sedangkan 30 persen lainnya akan dicari melalui sponsor. Namun, INASGOC belum bisa mengajukan ke sponsor karena Peraturan Presiden sebagai dasar hukum belum terbit.

"Ya kami akui INASGOC jadi kesulitan untuk masuk sponsor. Semalam saja, saya rapat dengan tim Technology Information menyinggung hal itu juga dan dikatakan dampaknya besar kepada seluruh aspek INASGOC," ujar Gatot.

Beruntung INASGOC tak terganggu persiapan venue. Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, Ratiyono, berencana membantu merenovasi venue. Namun tetap saja rencana itu baru dapat diwujudkan setelah Instruksi Presiden direvisi.

"Kami sedang menjajaki apa yang menjadi tawaran dari DKI. Di mana saat itu Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, Ratiyono, sangat responsif dan akan mempertimbangkan membantu kendala renovasi venue asal ada dasar hukumnya," tutur Gatot.

"Dasar hukumnya apa? Paling mungkin revisi Inpres, karena DKI itu kan bertanggung jawab di velodrome dan equestrian. Nah, bagaimana caranya nanti kami sampaikan ke Kantor Staf Presiden (KSP) agar Instruksi Presiden direvisi agar DKI punya keleluasaan untuk menggunakan APBD-nya," Gatot menjelaskan.

"Harusnya memang saya akan membicarakan dengan KSP hari ini. Namun pertemuan dibatalkan," tambah dia.


(mcy/fem)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed