Kehadirian Luis Milla sebagai pelatih tim nasional menghidupkan optimisme peningkatan prestasi di masa datang. Tapi rupanya, komunikasi yang dibangun antara Milla dengan para pemain seleksi tim nasional U-22 tak lancar-lancar amat.
Milla cuma bisa berkomunikasi dengan bahasa Spanyol. Sementara para pemain mayoritas hanya menguasai bahasa Indonesia dan bahasa ibu. Situasi itu menimbulkan masalah karena pemain khawatir tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka saat seleksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Baca Juga: Pemain Timnas U-22 Akan Dibekali Kamus Bahasa Spanyol]
Tak hanya pelatih yang dituntut menguasai bahasa Indonesia, nantinya ke-25 pemain di skuat final timnas U-22 akan diberi kelas khusus dalam memahami bahasa sang pelatih maupun Inggris.
Foto: detiksport/Amalia Dwi Septi |
Bukan hanya di cabang olahraga sepakbola, atlet dari cabang lain juga menyadari pentingnya bahasa asing. Apalagi, jadwal mereka bahkan lebih banyak berada di negara lain setiap pekannya ketimbang berada di Tanah Air.
Menurut pebalap motor Astra Honda Motor Andi 'Gilang' Farid Idihar penguasaan bahasa asing bahkan bukan hanya untuk berinteraksi dengan pelatih atau pesaing di arena. Kemampuan itu sudah menjadi tuntutan saat si atlet bakal 'manggung' di level dunia.
[Baca Juga: Agar Tak Seperti Lorenzo-Iannone, Andi Gilang Ingin Lancar Berbahasa Inggris]
Andi Gilang Foto: ist (AHM) |
Dalam Oise disebutkan penguasaan bahasa asing memang menjadikan seornag atlet bakal mempunyai nilai lebih. Mereka bakal lebih mudah memahami kultur yang berbeda saat bersama-sama atlet dari negara-negara lain ataupun ketika sedang bertanding di negara lain. Selain itu, para atlet juga mampu merespons lebih cepat situasi di lapangan, misalnya merespons instruksi wasit.
Tidak hanya saat berada di lapangan, tuntutan untuk mengikuti tur di berbagai negara juga membawa konseskuensi para atlet untuk berkomunikasi bahasa asing. Mengurus prosedur di imigrasi, berinteraksi dengan fans, dan dengan kemudahan mendapatkan informasi dari youtube dan buku-buku yang ditulis para ahli maka atlet akan lebih mudah mendapatkan bekal lebih dari mana saja.
Berkaca pengalaman PSSI yang mendatangkan Luis Milla, semestinya federasi cabang olahraga yang juga mendatangkan pelatih-pelatih asing sebaiknya membekali para pelatih itu dengan kursus bahasa Indonesia. Bukankah para pelatih yang menukangi klub-klub di Premier League dan para pemain yang bermain di liga Inggris lah yang menyiapkan diri mereka sebelum tiba di Britania? Mauricio Pochettino, Juergen Klopp, Antonio Conte, dan Pep Guardiola kursus bahasa Inggris sebelum tiba di Britania.
Bagaimana pengalaman para atlet Indonesia? Pemain bulutangkis Jonatan Christie, atlet atletik yang tengah naik daun Emilia Nova, pebalap Honda Dimas Ekky, dan lain-lain memiliki kisah berbeda-beda.
(fem/din)












































Foto: detiksport/Amalia Dwi Septi
Andi Gilang Foto: ist (AHM)