Bagi seorang atlet memiliki kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sudah menjadi sebuah keharusan. Bekal itu pun tidak hanya berguna saat menjadi atlet, tetapi juga setelah mereka beralih profesi menjadi pelatih.
Peraih perak Olimpaide 2016 Rio de Janeiro dari angkat besi, Eko Yuli, 27 tahun, menyadari pentingnya fasih berbahasa Inggris. Frekuensi pertandingan di luar negeri menjadi salah satu lahan untuk mengasahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti saat ini, kala timnas angkat besi ditangani pelatih asing, Aveenash Pandoo. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang kurang mumpuni, mereka mengasah kemampuan itu bersama-sama setiap harinya.
"Sejauh ini sama (Aveenash) Pandoo, kami saling belajar. Awal-awal memang manajer selalu bilang ikuti saja apa yang dikatakan pelatih. Akhirnya, kami lama-lama mengerti dan belajar bahasa Inggris secara otodidak dengan dia. Begitu dengan Pandoo yang belajar bahasa Indonesia, terutama kalau respons kami kaku, dia biasanya tanya ini bahasa Indonesia apa," ungkap pria berusia 27 tahun ini.
"Ya, minimal dengan cara itu sedikit demi sedikit saya jadi paham bahasa Inggris. Karena kalau kursus tidak dipakai di lapangan juga percuma. Tetapi dengan ini, cara-cara latihan jadi lebih paham," imbuh dia.
Dari pengalamannya pula Eko Yuli sempat dibuat keki dengan kemampuan minim berbahasa Inggris. Itu terjadi saat Eko Yuli menjalani debut mengikuti kejuaraan internasional. Dia sempat waswas dengan situasi yang akan dihadapinya.
"Dulu waktu mau berangkat ke kejuaraan internasional awalnya bingung. Nanti bingung mau bicara apa, tetapi akhirnya pelatih bantu untuk menerjemahkannya. Saat itu sih berpikir, coba kalau bisa sendiri pasti akan lebih mudah," kenang Eko Yuli.
Eko Yuli menilai mempunyai kemampuan bahasa asing bakal mempermudah seorang atlet untuk membuka jaringan ke luar. Dia menganggapnya sebagai sebuah investasi.
"Untuk saat ini masih aktif menjadi atlet mungkin akan lebih gampang belajar. Tetapi untuk di luar sana, kita kan tidak tahu seperti apa. Siapa tahu ditawari menjadi pelatih di luar negeri, tentu perlu punya kemampuan itu juga,"
"Selain itu saat penataran kepelatihan tidak hanya mengacu pada Indonesia tetapi internasional. Jadi supaya lebih paham ya harus didukung dengan bahasanya. Makanya, ke depan atlet butuh belajar bahasa Inggris," ucap dia. (mcy/fem)










































