DetikSport
Kamis 16 Maret 2017, 16:00 WIB

Pro dan Kontra Atlet Berhijab di Ajang Internasional

Femi Diah - detikSport
Pro dan Kontra Atlet Berhijab di Ajang Internasional Foto: AFP PHOTO / Yasuyoshi Chiba
Jakarta - Pemakaian hijab dalam sebuah kompetisi internasional olahraga belum sepenuhnya diterima. Atlet-atlet berhijab ini membuktikan mereka mampu berprestasi, namun ada pula yang batal unjuk gigi.

Coba bayangkan. Kalian telah berlatih keras. Kalian telah menghabiskan waktu pagi dan petang untuk ada di tempat latihan. Kalian telah sudah sangat dekat untuk bisa tampil dalam sebuah kejuaraan, mental maupun fisik. Kalian telah berada di venue pertandingan. Tapi, keinginan dan mimpi-mimpi itu buyar begitu saja. Semua terbentur kepercayaan, agama, dan peraturan.

Pengalaman itu pernah menikam petinju putri Amaiya Zafar. Di bulan November tahun 2016, saat dia berusia 16 tahun, Amaiya, seorang gadis dari Oakdale, Minnesota, siap tampil dalam sebuah kejuaraan tinju Sugar Bert Tournament di Kissimmee, Florida. Dia sudah berlatih selama dua tahun terakhir.


Namun, sesampai di lokasi pertandingan, federasi tinju Amerika Serikat (AS) menolak keikutsertaan Amaiya. Dia didiskualifikasi karena mengenakan hijab, pelapis berlengan panjang, dan legging melapisi kostum tandingnya.

Direktur Eksekutif USA Boxing Mike Martino tidak mengatakan kostum itu sebagai larangan karena agama. Tapi, laranagn itu muncul dengan pertimbangan faktor keamanan.

"Ini terkait faktor keamanan. Kalian menutup lengan dan kaki yang bisa jadi menutupi cedera. Nah, kalau nanti ada yang cedera dalam pertandingan, wasit tidak bisa melihatnya," kata Martino seperti dikutip ESPN.

Bukan hanya US Boxing yang melarang pemakaian kostum ala Amaiya itu. Asosiasi Tinju Internasional (AIBA) juga menyebut kalau hijab dan pakaian tertutup dilarang dengan pertimbangan potensi bahaya.

Kenyataan serupa juga pernah dituai tim nasional basket putri Qatar yang tampil pada Asian Games 2014. Mereka didiskualifikasi karena para pemainnya bersikukuh tampil dengan memakai hijab saat bertanding dengan Mongolia pada 24 September 2014.

Federasi Basket Internasional (FIBA) mengatur pemain tidak boleh mengenakan penutup kepala selama pertandingan dengan alasan menghindari potensi mencederai lawan. Para pemain Qatar menolak melepas hijab karena bertentangan dengan keyakinan mereka.

Sampai saat ini, peraturan itu masih terus diperdebatkan, Sejumlah komunitas meminta agar larangan itu dicabut.

Timnas basket putri Qatar mundur dari Asian Games 2014  Timnas basket putri Qatar mundur dari Asian Games 2014 Foto: AFP PHOTO / AL-WATAN DOHA / KARIM JAAFAR

Perubahan larangan itu tak dianut semua cabang olahraga. Federasi Sepakbola Dunia, (FIFA) pernah melarang hijab dan penutup kepala lainnya dalam pertandingan pada 2012.

Larangan itu dilegalkan pada 2007 dengan pertimbangan kesehatan dan keselamatan. Larangan itu kemudian diprotes oleh banyak komunitas dan akhirnya dicabut pada 2014.

Kejuaraan dunia sepakbola wanita U-17 yang dihelat di Yordania pada bulan Oktober menandai hijab secara resmi diperbolehkan bagi sebuah tim peserta.

Memakai hijab dalam sebuah kompetisi juga masih dinilai sebagai sesuatu yang tak wajar di cabang olahraga voli pantai, padahal tak ada larangan di sana. Pengalaman itu didapatkan pemain voli pantai Mesir, Nada Meaad, 18 tahun, di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

"Semua orang menatap kami dan mengambil foto, seolah kami ini aneh," kata Nada seperti dikutip Bleacher Report.

Nada memang tak berhijab. Dia mengenakan kaus dan celana panjang, kostum yang tak lumrah pada voli pantai. Atlet voli pantai biasanya mengenakan bikini sebagai kostum tanding. Pasangan dia, Doaa Elghobashy, yang berhijab.

Penampilan Elghobashy yang kontras dengan pasangan Jerman, Kira Walkenhorst, dengan keterangan "Ketika budaya bercampur" menjadi viral.

"Kami bangga," tutur Nada.

Pada Olimpiade 2016 itu pula AS membuat langkah besar dengan menyertakan satu atlet anggar muslim dan berhijab, Ibtihaj Muhammad. Di akhir pertandingan dia menyumbangkan perunggu di nomor beregu untuk kontingen AS.



(fem/rin)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed