DetikSport
Jumat 17 Mar 2017, 22:24 WIB

Tuan Rumah Asian Games, Indonesia Harusnya Punya Posisi Tawar terhadap OCA

Mercy Raya - detikSport
Tuan Rumah Asian Games, Indonesia Harusnya Punya Posisi Tawar terhadap OCA Foto: Dok. INASGOC
Jakarta - Pengurangan jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games 2018 mengesankan Indonesia plinplan. Namun, pengamat olahraga Tommy Apriantono mengatakan Indonesia tidak perlu ragu mengurangi cabor dan jangan terlalu tunduk dengan OCA.

Rabu (15/3), usai rapat koordinasi dengan INASGOC, Ketua Dewan Pengarah Asian Games telah memutuskan untuk mengurangi cabang yang dipertandinga dari 42 menjadi 37 cabor. Dengan pengurangan itu juga maka anggaran pun dapat diefisiensi.

Hasil ini pun memunculkan pertanyaan jika Indonesia tidak serius untuk mempersiapkan Asian Games yang berlangsung 18 Agustus -2 September 2018.

"Sebetulnya saya melihat kalau pemerintah sudah serius, cuma kalau saya lihat di KOI-nya terkesan terlalu menurut kepada OCAnya. Perlu diingat, yang memenangkan bidding itu adalah Vietnam tetapi mereka mengukur bahwa dengan menjadi tuan rumah, maka akan mengganggu ekonomi negaranya. Akhirnya membatalkan sehingga Indonesia yang sebelumnya mengusulkan Surabaya, kembali ditunjuk karena OCA tak punya pilihan," kata Tommy.

"Harusnya dulu itu tawarannya lebih tinggi dong, karena kalau tidak ada Indonesia, Asian Games tidak ada.
Tapi kalau saya lihat, Ibu Rita (Subowo-Ketua KOI periode sebelumnya) mengesankan seperti OCA, seperti harus bayar broadcasting fee sebesar 30 juta dollar. Di mana-mana broadcasting kita dapat dari media," lanjut dia.

Kemudian masalah cabang, sudah seharunya Indonesia punya posisi tawar untuk menentukan cabang mana yang diunggulkan, baik Olimpiade maupun non Olimpiade.

"Kalau tidak kuat buat apa. Sama seperti SEA Games 2017 Malaysia, angkat besi dihilangkan kan? Sama dengan Singapura, waktu pertama menolak menjadi tuan rumah SEA Games, karena dia lebih bergengsi menjadi tuan rumah Asian Youth Games daripada SEA Games. Kalau saya baca, SEA Games terlalu banyak cabornya sehingga butuh dana besar tapi gaungnya tidak ada,"

"Nah, kembali ke kita kalau saya lihat gayanya Pak Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI) adalah gaya pengusaha. Cepat ambil tindakan. Betul sekarang dikurangi, makanya dana yang dikurangi Rp 4 triliun hanya untuk Asian Games, yang sebetulnya bisa diefisienkan."

Sedangkan masalah ketidakpastian soal cabang olahraga yang terkesan maju mundur, Tommy mengatakan, kembali kepada KOI--sebagai kepanjangan tangan pemerintah ke OCA.

"KOI yang dari awal tidak firm maunya apa. Harusnya orientasinya pertama prestasi, kedua anggaran. Dia bisa tidak cari anggarannya? kan tidak bisa. Semua dari pemerintah. Padahal di mana-mana sekarang sudah industri olahraga. Kalau seperti itu, akan jadi seperti Brasil. Begitu selesai tidak dikelola benar fasilitasnya," ujarnya.

Lebih jauh Tommy menjelaskan bahwa yang bertanggung jawab atas keputusan soal cabor adalah KOI dan panitia lokal Asian Games. "Memang disusunan panitia lokal itu juga ada pemerintah. Tetapi pemerintah kan decision maker-nya, sementara yang didengarkan oleh OCA adalah KOI."

Tommy pun menyarankan agar masing-masing pihak, untuk berkoordinasi lagi. Jika memang 37 cabang sudah diputuskan oleh pemerintah. Maka sudah seharusnya panitia lokal berkomunikasi dengan Satlak Prima untuk melihat kemungkinan cabor yang akan dipangkas.

"Kan tadinya 42 cabor Indonesia yang minta.
Seperti paralayang mau bertambah, kita kuat karena orang tidak kenal medannya, kemudian jetski, kemudian panjat dinding kuat tidak? Tapi jangan salah Jepang juga kuat, Korea juga,"

"Nah, sekarang cabor olimpiknya. Kalau memang tidak ada dananya lalu (prestasi) kita lemah ya tidak perlu. Makanya mereka harus analisa. Buktinya, seperti Malaysia saja angkat besi putrinya bisa tidak ada karena mereka tidak punya atlet,"

"Jadi artinya memperkuat pondasi koordinasi antar pihak terkait dan stakeholder. Kan kita ingin sukses sebagai tuan rumah dan sukses prestasi," tukasnya.
(mcy/din)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
  • Jet-Jet Darat Vettel: Dari Julie Hingga Gina

    DETIKSPORT | Kamis 23 Mar 2017, 19:21 WIB Sebastian Vettel punya kebiasaan menamai mobil-mobil yang dipakainya di lintasan F1. Mulai dari Julie hingga yang terbaru Gina. Begitulah adanya Vettel.