DetikSport
Selasa 04 April 2017, 18:02 WIB

Hadapi PON, Petembak Ini Bersikukuh Tak Konsumsi Doping

Mercy Raya - detikSport
Hadapi PON, Petembak Ini Bersikukuh Tak Konsumsi Doping Foto: Mercy Raya/detikSport
Jakarta - Petembak Agus Waluyo bersikukuh tak mengomsumsi doping menjelang dan saat Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Barat. Dia hanya menelan vitamin C dan obat influenza.

Agus hadir dalam sidang hari kedua di Gedung PP Itkon, Senayan, Jakarta, pada Selasa (4/4/2017). Atlet tembak ini menjalani sidang didampingi Ketua tim hukum KONI Jabar, Tugiman, dan Kepala bidang fisiologi olahraga KONI Jabar M. Hutapea.

Dalam pengakuannya di depan Dewan Disiplin Antidoping, peraih medali emas cabang menembak highpower 300 meter perorangan ini, mengatakan jika sebelum hari pertandingan mengkonsumsi vitamin C merek enervonC sebanyak 2 kali sehari dan jelang hari pertandingan dia mengasup obat flu merek mixagrip sebanyak 3 kali sehari.

"Saat itu badan saya sudah enakan makanya lanjut ke pertandingan. Pada saat minum saya juga sudah laporan ke pelatih, pelatih kemudian memberitahu dokter kontingen," kata Agus, saat sidang.

"Saya tidak mungkin mencoreng Jabar dan satuan saya karena ini sudah sepengetahuan kontingen," lanjut pria kelahiran 23 maret 1988 ini.

Sementara itu, menurut anggota Dewan Disiplin Antidoping, Dr Haryono, menduga jika obat yang diasup Agus tidak hanya dua jenis obat itu. Karena hasil uji lanjutan sample B, di dalam urine Agus terdapat kandungan zat propranolol (beta bloker).

Propranolol masuk dalam kelompok obat penghambat beta, yang fungsinya bisa menurunkan aktivitas otot jantung sehingga detak dan tekanan jantung lebih rendah. Kemudian, propranolol juga bisa menghilangkan efek gerak.

Bagi atlet menembak, menurut Haryono, jenis propranolol sangat dilarang badan antidoping dunia (WADA). Sebab, dengan mengonsumsi zat tersebut atlet bisa meningkatkan akurasi sasaran.

"Tetapi si atlet kan bilangnya hanya konsumsi dua obat itu saja, tapi ya tidak mungkin. Obat ini kan dua hal yang berbeda. Tidak mungkin enervon C dan mixagrip menjadi propranolol. Itu jauh banget (bedanya)," kata Haryono.

"Nah, diasup dari suplemen juga tidak mungkin karena itu dugaannya dari asupan obat. Obat yang termasuk dalam daftar G (harus dengan resep dokter)," ungkap dia.

Pun jika ada indikasi khusus harus memakai betabloker, baik itu propranolol atau golongan lain, kata Haryono, dokter kontingen Jabar semestinya harus menggunakan Therapeutic Use Exemtion (TUE). Bahwa, biarpun atlet ini olahraga menembak yang dilarang memakai propranolol, tetapi obat ini satu-satunya yang untuk kesehatan si atlet.

"Kalau itu baru bisa dibenarkan. Tentunya dimajukan sebelumnya, nanti ada komisi TUE. Nanti dibicarakan apakah benar obat ini merupakan satu-satunya obat yang bisa untuk kondisinya dia. Tetapi si atlet kan merasa tidak mengkonsumsi itu," ucap dia.

Kendati begitu, Haryono belum mau berspekulasi soal putusan yang akan diambil Dewan Disiplin nanti. Menurutnya, banyak hal yang nantinya akan menjadi pertimbangan.

"Semua pasti dipertimbangkan. Nanti itu yang kami pertimbangkan bahwa apa ada hal-hal yang terberat. Itu pasti ada. Karena fungsi sidang ini kan untuk melihat masalahnya apa. Ada yang meringankan, ada yang memberatkan," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua tim hukum KONI Jabar, Tugiman, meyakini atletnya tidak bersalah. Pertama karena Agus merupakan bagian dari kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan masih berusia muda. "Sehingga tidak ada upaya untuk mencoreng institusinya. Apalagi cuma dua kandungan yang diminumnya? Apakah itu memungkinkan menjadi doping," kata Tugiman.

"Memang secara hukum sulit dibuktikan karena ini sifatnya medis. Kalaupun kedua kandungan itu memunculkan zat baru, kami memohon pertimbangan lebih mendalam karena Agus menjadi korban karena ketidaktahuan. Melihat latarbelakang itu kami ragu ada kesengajaan," tambah Tugiman sekaligus mempertegas KONI Jabar akan banding jika hasil putusan merugikan si atlet.



(mcy/fem)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed