Saat ini, Titi menjadi salah satu pepanah yang tengah bersiap menuju SEA Games 2017 Malaysia. Sayangnya, persiapannya menalami masalah dengan uang saku yang menunggak. Selain itu, peralatan tidak memadai.
"Ya mungkin sedikit terganggu tetapi coba dimaksimalkan saja. Walau belum cair ya tetap berusaha saja karena nanti juga pasti akan dibayarkan," kata Titi dalam obrolan dengan detikSport, Selasa (11/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau untuk keperluan pribadi saya pakai duit tabungan. Nanti kalau sudah krisis biasanya telepon ibu atau mas (kakak dari Titi) untuk pinjam duit. Kalau ibu itu mah maklumin saja, jadi bilangnya 'Ibu, aku lagi krisis tidak punya uang' begitu saja," ujarnya seraya tersenyum.
Tim panahan sebenarnya sudah berusaha menyiapkan solusi untuk menutupi keterlambatan gaji. Para atlet, pelatih, dan manajer tim panahan menggelar arisan yang dikocok setiap pekan. Mereka membayar Rp 50 ribu setiap arisan digelar. Namun, bagi Titi besaran hasil arisan hanya membantu sedikit dari kebutuhannya.
"Sebenarnya arisan ini sudah lama direncanakan tapi mulai akhir Maret kemarin. Dapatnya Rp 800 ribu, cuma potong Rp 50 ribu untuk duit kas. Jadi kalau ada acara apa-apa bisa pakai itu. Ini bantu kita juga tapi ya hanya sedikit saja," katanya.
Titi mencoba memaklumi telatnya gaji yang dia terima dari pemerintah. Dia berharap ke depan bisa lebih baik lagi.
"Mungkin pemerintah ada (masalah) apa. Jadi maklumi saja. Semoga lebih baik lagi," imbuhnya.
Dia juga tidak gentar dan tetap menargetkan raih medali emas di SEA Games 2017, meski dengan situasi yang kurang mendukung.
"Target sih semoga bisa dapat medali emas. Mudah-mudahan juga hasil kualifikasi nanti baik supaya bisa main juga di nomor perorangan. Karena untuk nomor recurve individu kan dilihat dari skoring terbaik se-Indonesia," katanya.
Titi Kusumawardhani Foto: Grandyos Zafna/detikSport |
Terpisah, pepanah Rona Siska Sari mengeluhkan telatnya uang saku. Pasalnya, ia membutuhkan uang itu untuk membeli peralatannya. Rona mengungkapkan untuk membeli asesoris peralatan dia harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 20 juta. Beberapa di antaranya yaitu visir (alat pembidik) long sama short, tempat peluru, ground (penopang busur) dan lainnya.
"Dari pemerintah cuma busur, batang, sama anak panah, perentelan (asesoris) lebih mahal lagi di nomor compound bisa Rp 20 juta. Padahal, sudah diusulkan peralatan itu tetapi tetap saja tidak lengkap. Saya sudah habis 20 jutaan untuk peralatan. Apalagi sekarang belum gajian, duit simpanan saya sudah habis buat beli peralatan," keluhnya.
Rona dengan lirih menitipkan pesan agar gaji pelatnas bisa lekas dicairkan oleh pemerintah.
(mcy/fem)











































Titi Kusumawardhani Foto: Grandyos Zafna/detikSport