DetikSport
Jumat 21 April 2017, 22:00 WIB

Kartini Olahraga

Dinda Seriusi Pendidikan karena Cantik dan Koleksi Medali Saja Tidak Cukup

Mercy Raya - detikSport
Dinda Seriusi Pendidikan karena Cantik dan Koleksi Medali Saja Tidak Cukup Foto: dok. pribadi
Jakarta - Berkaca dari Kartini atlet nasional loncat indah, Maria Natalie Dinda Anasti, tahu periuk nasi tak akan tiba-tiba ada di mejanya. Makanya, dia pun serius menyelesaikan tuntutan akademisnya.

"Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu. Daya upaya itu ialah pengajaran".

Kutipan Kartini itu tepat menggambarkan semangat Dinda menjalani dua sisi hidupnya. Dinda langganan menghuni pelatnas loncat indah. Dinda juga lulusan sarjana hukum saat ini.

Ya, Dinda adalah peloncat indah Indonesia yang diproyeksikan menuju SEA Games 2017 Kuala Lumpur. Di tengah persiapan pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara itu, dia berhasil menyelesaikan pendidikannya Strata 1 (S1) jurusan hukum di Universitas Indonesia pada 2016. Dinda juga sudah diwisuda awal tahun ini.

Dua kegiatan itu, diakui Dinda, tidak mudah. Meski pantangan bagi para atlet, Dinda ngeyel menjalani berangkat tidur dini hari untuk mengejar kelulusan.

Situasi itu bukan sekali ini dilakoninya. Dinda secara rutin menjalani kebiasaan tersebut sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Saya masuk pelatnas 2007, waktu itu masih kelas 2 SMP Tarakanita 1. jadi setiap pagi sekolah, pulangnya latihan. Dalam tujuh hari seminggu itu melakukan latihan dan belajar. Begitu saat ada waktu kosong biasanya dipakai untuk mengerjakan tugas," kata Dinda dalam perbincangan dengan detikSport pada Jumat (21/4/2017).

Peraih medali perak nomor sinkro 3 meter SEA Games 2009 Laos itu nyaris mundur karena merasa kelelahan. Namun, dia menyadari kalau masa depannya ada di tangan dia sendiri.

Beruntung, Dinda mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya. Pelatih juga memiliki peran yang cukup besar hingga dia mampu meraih gelar S1.

"Saya selalu diajarkan kalau buat keputusan harus tanggung jawab dan all out. Risiko apapun harus diambil, makanya pilih sekolah pun akhirnya yang sekolah swasta bukan Ragunan meski akhirnya harus pontang panting sendiri. Jadi paling kalau orang tua ingatkan saja," katanya.

Karenanya, begitu dia masuk bangku kuliah pola latihan berat yang diberikan pelatih selalu dilahapnya dengan baik. Kendati pada saat persiapan Pekan Olahraga Nasional 2016 lalu, dia terpaksa tidak latihan selama tiga bulan karena tidak punya pilihan lain karena semester akhir.

"Waktu PON itu saya sempat diomelin sama pelatih karena tidak latihan selama tiga bulan. Tapi saya memang tidak punya pilihan harus menyelesaikan skripsi saya. Makanya setelah selesai semua, tiga bulan sebelum PON saya geber semua," tutur atlet yang membela DKI Jakarta saat PON 2016 itu.

Maria Natalie Dinda AnastiMaria Natalie Dinda Anasti Foto: dok. pribadi

Apa yang dilakoni gadis berusia 22 tahun ini akhirnya berbuah manis. Dinda memboyong dua medali perak di nomor sinkro 3 meter dan sinkro 10 meter cabang loncat indah.

Kini, Dinda diproyeksikan untuk SEA Games 2017 Malaysia. Dia menargetkan untuk meraih medali emas di nomor spesialisasinya sinkro 3 meter.

"Sebenarnya saya ingin lanjut ke Strata S2 di Amerika Serikat. Tapi ini fokus ke SEA Games dulu, nah kalau terpilih ke Asian Games 2018 jalani itu dulu baru lanjut lagi pendidikannya untuk mengambil jurusan yang sama yaitu hukum karena saya ingin menjadi pengacara," harap Dinda.

"Ini investasi saya setelah tidak menjadi atlet dan sudah terpikirkan sejak kecil," ungkap dia. Makanya, dia tidak mau pilih salah satu.

Dinda menilai pendidikan menjadi bagian yang paling penting dalam kehidupan seorang wanita. Terlebih di Indonesia pendidikan masih menjadi tolak ukur apapun bagi seseorang.

"Makanya jangan pernah lupakan pendidikan karena bagaimana pun pendidikan itu hal essential untuk kita,'

"Bagi seorang atlet pendidikan menjadi hal yang tidak bisa dilupakan karena kita tidak selamanya mengandalkan fisik sampai tua nanti. Kita harus punya cadangan dan hal lain yang kita kejar sebagai atlet, yang bisa memberi jaminan di masa depan. Paling tidak sebagai modal untuk apapun," harapnya.



(mcy/fem)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed