DetikSport
Senin 07 Agustus 2017, 18:15 WIB

SEA Games Kuala Lumpur: Indonesia Salah Tingkah Dibuatnya

Mercy Raya - detikSport
SEA Games Kuala Lumpur: Indonesia Salah Tingkah Dibuatnya Foto: Pool
Jakarta - SEA Games 2017 Kuala Lumpur sudah membuat kontingen Indonesia salah tingkah. Bertanding di negara tetangga, tapi bahkan tak berani mematok masuk tiga besar. Kok bisa?

SEA Games 2017 memang beda buat Indonesia. Pertama-tama, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), dan Chief de Mission (CdM) Aziz Syamsuddin sukses dibuat takut-takut mematok target pada multiajang mulai 19-30 Agustus itu.

Padahal SEA Games dihelat cukup dekat dengan Indonesia. SEA Games digeber di Kuala Lumpur.

Bahkan, di awal tahun Kemenpora tak memasukkan SEA Games Kuala Lumpur sebagai salah satu di antara empat program kerja prioritas. Simak saja program prioritas Kemenpora yang dipaparkan langsung oleh Menpora Imam Nahrawi: persiapan pelaksanaan Asian Games 2018, persiapan pelaksanaan Asian Para Games, persiapan Olympic Center untuk Asian Games, dan Program Indonesia Emas (Prima). Semua berfokus kepada Asian Games.

Pelatnas SEA Games mayoritas digeber mulai Januari. Itu setelah rangkaian seleksi oleh pengurus cabang olahraga, baik dari Pekan Olahraga nasional ataupun seleksi nasional, dan pemantauan pemandu bakat.

Perhitungan target ke SEA Games baru dibuat bulan Juli alias satu bulan lalu. Artinya, setelah pelatnas berjalan tujuh bulan.

Itupun dipantik oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla lebih dulu. Dia menyebutkannya saat meninjau beberapa pelatnas di Cibubur dan Sentul.

"Setidak-tidaknya empat (besar) lah," kata JK usai meninjau pelatnas bola voli di Sentul, Jawa Barat pada 18 Juli.

Meski menyebut target peringkat keempat di SEA Games Kuala Lumpur, JK tak merinci jumlah emas yang harus didapatkan untuk mencapainya. Dalam prosesnya Satlak Prima menerjemahkan target JK itu dengan menyebut 55 medali emas.

Target tersebut dihitung dengan menilik kekuatan kontingen Indonesia yang diisi 534 atlet. Ditambah 122 atlet dari cabang olahraga mandiri. Atlet-atlet itu turun pada 37 cabang olahraga. Kontingen itu akan didampingi oleh 166 ofisial ditambah 55 tim CdM.

"Target medali seperti yang disampaikan Satlak Prima diharapkan raih 55 medali emas, lebih besar dari perolehan dua tahun sebelumnya 47 medali emas," kata komandan kontingen Indonesia Aziz Syamsuddin.

Tentang bergabungnya cabang olahraga mandiri pada kontingen Indonesia pun sempat melalui proses tarik ulur. Hingga kemudian Kemenpora memberi ruang kepada mereka.

Stake holder olahraga yang terkait itu mengakui kesulitan untuk menentukan target medali emas di SEA Games Kuala Lumpur. Sebab, Malaysia membuat SEA Games 2017 ini menjadi berbeda dengan penghapusan beberapa cabor dan nomor yang dipertandingkan serta pemberian kuota peserta kepada negara lain, tapi tak ada pembatasan bagi tuan rumah.

SEA Games Kuala Lumpur: Indonesia Salah Tingkah Dibuatnya Foto: Pool


Dari penghapusan cabor dan nomor, di antaranya, Indonesia kehilangan emas dari angkat besi putri (satu emas Sri Wahyuni), dayung (3 medali emas kano, 8 medali emas rowing, dua medali emas cabang cabang kayak), bridge, kempo, gulat, voli pantai, dan tarung derajat.

Di sisi lain, pemerintah dan Satlak Prima tak sanggup membangun atmosfer pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang ideal menuju SEA Games 2017 nanti. Kemenpora gagal mewujudkan janji tak akan ada lagi gaji dan suplemen telat serta peralatan latih tanding yang datang tepat waktu juga kemudahan uji coba.

Kemenpora bilang ada perubahan mekanisme penggunaan anggaran. Selain itu, ada rekening atlet yang tak sesuai dengan seharusnya. Jadilah gaji terlambat.

Tak hanya itu, pemerintah dan Satlak Prima juga tak sigap mengatasi beberapa pelatnas yang menjadi nomaden saat kompleks Gelora Bung Karno di Senayan direnovasi untuk Asian Games. Sudah begitu, dengan venue sewaan itu, kadang kala latihan atlet-atlet pelatnas diinterupsi oleh penyewa lain.

Yang menggelikan, pemerintah justru bersikap kalau anggaran itu tidak sulit kok untuk dicairkan. Pernyataan itu dikeluarkan Senin (7/8/2017) siang di Istana Negara dalam pelepasan kontingen Indonesia.

"Sesuai arahan Bapak Presiden, bonus tidak harus berupa uang saja tetapi harus ada stimulan yang lain. Seperti halnya kami sudah berbicara dengan Menteri PAN RB, bahwa peraih medali emas nanti akan dipromosikan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)," tutur Menteri Pemuda dan Olahrag Imam Nahrawi.

[Baca Juga: Selain Uang, Menpora Wacanakan Bonus PNS dan Rumah untuk Peraih Emas SEA Games]

Selain itu, Imam menyebut ada potensi atlet bisa mendapatkan rumah. Soal ini memang diakui baru sekadar wacana.

SEA Games Kuala Lumpur: Indonesia Salah Tingkah Dibuatnya Foto: istimewa


Janji menjadi PNS bukanlah wacana baru. Bahkan selevel PON pun tak sedikit pemerintah provinsi yang memberikan janji kepada atlet berprestasi untuk menjadi PNS. Dalam prosesnya medali emas tak membuat atlet mudah untuk mendapatkan status PNS.

Begitu pula dengan janji pemberian rumah. Janji itu bukan janji baru. Janji serupa pernah diwujudkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga periode sebelumnya dengan rumah diberikan kepada pensiunan atlet berprestasi.

Presiden Joko Widodo sih berharap kontingen Indonesia tak pulang dengan hasil memalukan. Apalagi, Indonesia sudah ditunggu hajatan lebih besar tahun depan: menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

"Targetnya emas, ya emas. Targetnya juara, ya juara. Dan ini menjadi batu untuk melompat ke Asian Games," kata Jokowi.



(fem/fem)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed