Bung Karno Menaruh Idealisme dan Ambisi di Atap Stadion Utama GBK

Napak Tilas Asian Games 1962

Bung Karno Menaruh Idealisme dan Ambisi di Atap Stadion Utama GBK

Yanu Arifin - Sport
Rabu, 16 Agu 2017 16:27 WIB
Bung Karno Menaruh Idealisme dan Ambisi di Atap Stadion Utama GBK
Foto: repro Dari GBK ke GBK
Jakarta - Sulit untuk membuat stadion sepakbola dengan atap temu gelang 55 tahun lalu. Tapi, Presiden Soekarno mewujudkan dan memamerkannya pada Asian Games 1962.

Indonesia mengebut pembangunan Jakarta, salah satunya kompleks Gelora Bung Karno (GBK), untuk menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Di dalam kopleks olahraga itu, stadion sepakbola menjadi kebutuhan mutlak.

Bung Karno bertekad membuat sebuah stadion megah yang modern. Seperti dikutip Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno dikutip, dia mendapatkan ide dari kemegahan Muse Antropologia de Mexico di Mexico City.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam prosesnya Bung Karno meminta bantuan arsitek Uni Soviet untuk merancang sebuah stadion sepakbola yang dapat melindungi penonton dari hujan dan panas matahari. Idenya dinilai mustahil waktu itu.

Tapi, Bung Karno bersikukuh membangun sebuah gelanggang olahraga di Jakarta yang lebih megah daripada Stadion Pusat Lenin, dengan atap temu gelang, sebuah atap yang menyambung secara melingkar mengikuti lintasan olahraga.

Bung Karno Menaruh Idealisme dan Ambisi di Atap Stadion Utama GBKFoto: repro dari GBK ke GBK


"Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kami harus temu gelang," kata insinyur lulusan Technische Hogeschool te Bandoeng--sekarang Institut Teknologi Bandung--itu.

Desain atap temu gelang tak hanya unik, tapi seluruh penampilannya juga terbentuk secara ritmis dan harmonis dalam kesatuan yang padat. Keunikan atap terletak pada pertemuan pilar-pilar tipis penyangga konstruksi.

Dibangun dengan bantuan arsitek Uni Soviet dan Indonesia, atap temu gelang itu akhirnya terwujud. Dalam pidatonya kepada atlet peserta pelatihan nasional untuk Asian Games, 22 Agustus 1962, Bung Karno membeberkan kebanggaannya.

"Saya memerintahkan kepada arsitek Uni Soviet, bikinkan atap temu gelang daripada main stadium yang tidak ada di lain tempat di seluruh dunia. Bikin seperti itu. Meski pun mereka tetap berkata, yah tidak mungkin Pak. Tidak biasa, tidak lazim, tidak galib, kok ada stadion atapnya temu gelang, di mana-mana atapnya ya hanya sebagian saja. Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kita harus temu gelang," Presiden Soekarno dalam pidatonya.

"Tidak lain dan tidak bukan oleh karena saya ingin Indonesia kita ini bisa tampil secara luar biasa. Kecuali praktis juga ada gunanya, supaya penonton terhindar dari teriknya matahari. Sehingga ikut mengangkat nama Indonesia. Dan sekarang ini terbukti benar saudara-saudara, di mana-mana atap stadion temu gelang dikagumi oleh seluruh dunia. Bahwa Indonesia mempunyai satu-satunya main stadium yang atapnya temu gelang. Sehingga benar-benar memukau kepada siapa saja yang melihatnya," tegasnya.

SUGBK dibangun dengan semangat gotong royong sekitar 40 sarjana tekhnik dari Indonesia yang memimpin sekitar 12.000 pekerja sipil dan militer yang bekerja selama tiga shift siang dan malam. Semuanya didampingi langsung oleh tenaga ahli yang berasal dari luar negeri seperti Uni Sovite, Hongaria, Swiss, Jepang, Prancis dan Jerman.

SUGBK pun memiliki megah dengan lima lantai di dalamnya. Lantai satu sampai tiga dikenal sebagai tribun atas. Sumbu bangunan tersebut membujur dari arah utara ke selatan sepanjang 354 meter. Sumbu pendeknya membentang dari timur menuju ke barat 325 meter.

SUGBK dikelilingi oleh sebuah jalan lingkar sepanjang 920 meter ring dalam dan 1.100 meter ring luar. Di bagian dalam stadion terdapat trek berbentuk elips seluas 1,75 hektar dengan sumbu panjang 176,1 meter dan yang pendek 124,32 meter. Lapangan sepakbola berukuran 105x70 meter.

Tak hanya Uni Soviet, Bung Karno, yang kala itu menerapkan politik bebas aktif, juga memberi kesempatan pada Amerika Serikat, pesaing berat Soviet, untuk ambil bagian dalam persiapan Asian Games 1962. Dengan sedikit lobi, Negeri Paman Sam membantu pembangunan jalan Cawang sampai Tanjung Priok serta Jembatan Semanggi.

Kompleks GBK dan segala bangunan yang lahir kala itu masih bisa digunakan hingga saat ini. Pada 18 Agustus 2018 nanti, GBK bersama-sama Palembang, akan menghelat Asian Games ke-18.

Tentu kita semua harus berterima kasih pada Presiden Soekarno. Semangat, ambisi dan idealismenya telah mengerek gengsi Indonesia di mata dunia, di tengah situasi sulit pasca kemerdekaan, terwujud dengan bangunan megah.


(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads