Memble di SEA Games, Pebalap dan Pelatih Kriterium Terancam Degradasi

Memble di SEA Games, Pebalap dan Pelatih Kriterium Terancam Degradasi

Mercy Raya - Sport
Selasa, 22 Agu 2017 22:10 WIB
Memble di SEA Games, Pebalap dan Pelatih Kriterium Terancam Degradasi
Ketua Umum PB ISSI, Raja Sapta Oktohari (Lamhot Aritonang/detikSport)
Jakarta - Para pebalap Indonesia tak satupun yang naik podium di nomor kriterium di SEA Games 2017 Kuala Lumpur. Ketua Umum PB ISSI, Raja Sapta Oktohari, akan melakukan promosi dan degradasi.

Balap sepeda dipatok target delapan medali emas di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur. Kriterium menjadi salah satu nomor yang diharapkan menjadi donatur emas.

Namun, dalam perjalanannya para pebalap kriterium memble saat tampil Senin (22/8/2017). Malah, tak satupun riider Merah Putih yang berhasil naik podium di SEA Games 2017 itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Baca Juga: Gagal Total di Kriterium, PB ISSI Alihkan Fokus ke Nomor Trek]

Okto mengakui penampilan para pebalap Indonesia tak kompak. Tim nasional balap sepeda kurang sikron satu sama lain.

"Dari laporan singkat karena kurangnya sinkronisasi tim. Kami harus fair dan apapun hasilnya ini harus jadi bahan evaluasi. Kami tidak akan menutup-nutupi kegagalan ini. Karena nanti tidak efektif dalam proses evaluasi," kata Okto ketika ditemui di sela-sela pelepasan tim trek di kawasan Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Selasa (22/8/2017).

"Selain itu, harus diakui jika atlet kami memang kalah jam terbang, sebab memang baru terakhir-terakhir ini anak-anak turun ikut dalam tour-tour, seperti Flores kemarin. Sebaliknya para lawan jauh lebih banyak berlaga di tour-tour di luar negeri. Itu jadi satu kelemahan kita memang. Karena untuk mengikuti tour-tour di luar untuk menambah jam terbang memang butuh konsekuensi dana yang besar," imbuh dia.

Alasan Okto kurang tepat. Para pebalap Timnas tak tampil di Tour de Flores karena dilarang oleh PB ISSI yang menyebut ajang itu terlalu dekat dengan SEA Games.

"Untuk itu, hasil SEA Games ini akan kami dijadikan rujukan utama untuk semuanya, baik itu atlet maupun pelatih. Bahkan untuk komposisinya. Jadi sudah pasti akan ada promosi degradasi nanti."

"Ke depan kami sudah mulai cari-cari alternatif lain untuk sistem kepelatihan. Seperti, mendatangkan pelatih asing hingga meng-upgrade pelatih lokal. Tapi untuk meng-upgrade, prosesnya membutuhkan waktu lagi hingga alternatif untuk mendatangkan pelatih asing pun kami lihat jadi jalan terbaik saat ini. Karena itu jadi kebutuhan untuk naik ke level yang lebih tinggi lagi," ucap pria berusia 41 tahun ini.

"Sebenarnya bukan masalah lokal atau asing, tapi lebih kepada masalah ilmu yang dimiliki. Indonesia rata-rata hanya memiliki pelatih level 1-2 saja. Dan banyak pelatih yang menggunakan faktor empiris berdasarkan pengalaman saja. Jadi mulai sekarang sepertinya menggunakan sport science itu menjadi hal yang wajib, karena semua tim sudah memakai itu," tambah dia seraya menyebut sudah ada empat pelatih yang tengah dibidik.


(mcy/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads