Menpora Dukung Kartu Pos Undian
Sabtu, 14 Mei 2005 11:14 WIB
Jakarta - Rencana dikeluarkannya kartu pos undian dengan foto para atlet didukung oleh Menpora Adhyaksa Dault. Asalkan dengan syarat tidak melanggar undang-undang dan aqidah yang berlaku.Demikian diungkapkan oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault yang sekaligus membantah kalau pihaknya yang akan mengeluarkan kartu pos tersebut. Dijelaskan oleh mantan ketua umum KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) ini, rencana diluncurkannya kartu pos undian dengan gambar atlet itu adalah keinginan pihak swasta yang bekerja sama dengan IANI (Ikatan Atlet Nasioanal Indonesia). Ide itu muncul dengan harapan dari hasil penjualan bisa didapatkan dana kesejahteraan bagi para atlet dan mantan atlet."Karena akan memakai gambar atlet, ya tentu itu persetujuan dari atletnya sendiri saya tidak bisa melarang. Dari gambar itu para atlet akan mendapat royalti. Jika memang untuk olahraga dan atlet tentu saya dukung," ujar Adhyaksa kepada wartawan di kantornya di bilangan Senayan, Jumat (13/5/2005)."Dukungan saya pada kartu pos ini tentu dengan catatan tidak melanggar undang-undang, aqidah agama dan moral. Kalaupun saya larang, yang memberikan izin adalah Departemen Sosial. Dan jangan lupa harus ada persetujuan seperti dari MUI dan PGI," lanjutnya.Kartu pos dengan gambar atlet saat ini tengah dalam tahap penggodokkan. Setiap kartu pos bergambar atlet tersebut memiliki masing-masing nomor dan masyarakat yang membeli tidak bisa memilih nomor."Sebenarnya yang paling efektif untuk menghimpun dana adalah lewat sport laboring. Seperti kita membeli minuman, tertera di situ Rp 500 untuk sumbangan olahraga," tukasnya.Ide lain yang diungkapkan oleh Menpora adalah dari dana dukungan masyarakat yang selama ini mempunyai rekening tabungan. Menyumbangkan bunga tabungan misalnya Rp 2000 dari sekian dana yang telah disimpan. Tentu dengan persetujuan si pemilik rekening. "Bayangkan orang Indonesia diperkirakan punya rekening tabungan sekitar 40 juta orang. Nah, satu orang misalnya memiliki tabungan Rp. 42.002.500, kita sodorkan lembar persetujuan untuk dipotong dua ribu rupiah untuk olahraga dan ia setuju, kita pun bisa menghimpun dana dari 40 juta orang yang punya rekening.""Namun tentu itu semua ada regulasinya. Ada sistem-sistem yang harus dilakukan. Tidak bisa main potong saja," tandas Adhyaksa. Sport laboring tampaknya sangat ditekankan oleh Menpora untuk dana pembinaan olahraga yang saat ini bisa dibilang minim. Prestasi olahraga Indonesia yang dulu pernah bersinar terang di kawasan Asia Tenggara, perlahan-lahan redup oleh pesaing seperti Malaysia, Thailand dan Singapura yang punya anggaran khusus untuk pembinaan olahraganya. (erk/)











































