DetikSport
Jumat 08 September 2017, 17:30 WIB

Atjong Tio: Masuk Pelatnas Belakangan, Didukung Pengajian, Emas di Tangan

Femi Diah - detikSport
Atjong Tio: Masuk Pelatnas Belakangan, Didukung Pengajian, Emas di Tangan Foto: MASOC 2017
Jakarta - Atjong Tio Purwanto tak dijagokan untuk menyumbangkan medali emas dari lari halang rintang 3.000m di SEA Games 2017 Kuala Lumpur. Dukungan dari rekan sesama kesatuan lewat youtube dan pengajian menggandakan motivasinya.

Atjong. Begitu panggilannya. Kulitnya hitam. Matanya juga tak sipit. Dia kera Ngalam (orang Malang).

"Itu nama pemberian bidan yang membantu ibu melahirkan delapan putra putrinya. Saya anak nomor enam, dan bidan, yang China, ingin memberi nama," kata Atjong kepada detikSport.

Atjong tak pernah malu. Tidak pernah pula memiliki masalah dengan nama itu.

Ya, Atjong memang kera Ngalam sejati. Dia lahir dan besar di Malang 17 Oktober 1992. Dia tak mengira bakal menjadi pelati tercepat di nomor tersebut.

Bisa jadi, Atjong bercerita, dulu saat Sekolah Dasar, Atjong mencari uang dengan menjadi pelepas burung merpati. Dia pun terbiasa berlati di bawah terik matahari sekitar empat jam, mulai pukul 14.00 sampai 16.00.

Waktu bergulir. Kini, Atjong bukan lagi pelepas merpati. Dia terdaftar sebagai anggota Batalyon Mekanis 521 d-Y Kediri, Jawa Timur. Atjong juga mengharumkan nama Indonesia di kancang Asia Tenggara. Dia meraih medali emas dari lari halang rintang 3.000m.

Prajurit TNI AD berpangkat sersan itu menjadi yang tercepat dengan membukukan waktu 9 menit 3,94 detik. Medali perak jatuh kepada atlet Vietnam, Pham Tien San, yang mencatatkan waktu 9 menit 06,31 detik. Medali perunggu juga menjadi milik atlet Vietnam, Do Quoc Luat, yang mencatatkan waktu 9 menit 08,72 detik.

Tampil dalam perlombaan terakhir atletik, Atjong membuat kejutan dengan berhasil meraih emas. Emas itu disambut dengan isak tangis dan teriakan syukur oleh perwakilan PASI.

[Gambas:Instagram]

Emas itu memangkas jarak target dengan pencapaian PB PASI di SEA Games. Dari tujuh (ada yang menyebut sembilan) emas, PASI membawa pulang lima emas. Padahal, Atjong sama sekali tak difavoritkan untuk menyumbangkan emas.

"Saya dipanggil ke pelatnas paling belakang, pada bulan April, bersama tujuh atlet lain," tutur Atjong.

Panggilan yang mepet dengan pelaksanaan SEA Games itu bukan tanpa risiko. Setelah bergabung dengan pelatnas, Atjong harus melahap serangkaian menu latihan berat dengan tahapan mencapai penampilan terbaik pada Agustus 2017 itu. Latihan berat itu sempat membuatnya cedera hamstring selama dua pekan.

Tapi, justru karena baru masuk pelatnas belakangan itu pula, Atjong tak ingin kendur. Dia bertekad untuk terus bisa diberangkatkan ke Kuala Lumpur. Dia ingin membayar lunas kegagalannya meraih emas di SEA Games 2015 Singapura. Waktu itu, dia mendapatkan medali perunggu.

Masalah-masalah serupa dengan rekan-rekannya di pelatnas SEA Games 2017, dengan uang saku terlambat dan lainnya, tak cukup mengendurkan semangat Atjong. Perlakuan kurang mengenakkan tuan rumah, transportasi dan penginapan kurang ideal, juga tak dijadikan soal olehnya.

[Gambas:Instagram]


Atjong membuat masalah-masalah itu menjadi motivasi tambahan. Di sisi lain, dia sedikit diuntungkan dengan bukan jadi unggulan. PASI tak memberi target medali emas kepadanya.

Atjong juga beruntung memiliki rekan di Batalyon mekanis 521 D-Y Kediri yang solid. Mereka mendukung dengan menggelar pengajian dan mengirimkan video berisi motivasi kepada Atjong.

"Motivasi dari mereka sangat luar biasa. Sebelum saya ke Kuala Lumpur, mereka kirim pesan ke saya agar semangat. Kemudian membuat pengajian dan bikin video khusus buat saya," tutur Atjong.

Kini sukses meraih medali emas itupun dipersembahkan untuk rekan-rekannya di Kediri, selain kedua orang tua, kekasih, dan pelatihnya Wita Witarsa. Atjong juga berterimakasih kepada PASI yang memberikan kesempatan kepadanya untuk bergabung dengan para pelari jarak jauh terbaik Tanah Air yang digodok di Pengalengan, Jawa Barat.

Kini setelah emas SEA Games 2017 ada di tangan Atjong akan terus berlari di lintasan halang rintang 3000m di level yang lebih tinggi. Sebab, dia bukan lagi pelepas merpati di jalanan berkelok di kampung halamannya.


(fem/krs)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed