DetikSport
Selasa 19 September 2017, 19:37 WIB

Anggaran Satlak Prima 2018 Capai Rp 734,8 Miliar

Mercy Raya - detikSport
Anggaran Satlak Prima 2018 Capai Rp 734,8 Miliar Prima Wisnu Wardhana menjadi andalan Indoensia di Asian Games nanti. (Sigid Kurniawan/Antara Foto)
Jakarta - Pemerintah akan menggelontorkan Rp 734,8 miliar kepada Satlak Prima pada tahun depan. Jumlah itu meningkat hingga Rp 500 miliar ketimbang tahun ini.

Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. meski jumlah cabang olahraga prioritas lebih sedikit ketimbang SEA Games 2017, yang berakibat jumlah atlet lebih sedikit, Satlak Prima justru mendapatkan pendanaan yang lebih besar.

Ketua Satlak Prima Achmad Soetjipto mengatakan jumlah anggaran tersebut tidak secara spesifik untuk pelatnas Asian Games, melainkan untuk kebutuhan Prima yang lainnya.

"Kami menggunakan anggaran tahunan, jadi tidak bisa menyebut itu hanya dana Asian Games saja," kata Soetjipto di Wisma Kemenpora, Selasa (19/9/2017).

Sebagai gambaran, anggaran Rp 734,8 miliar itu dengan indikasi basis atlet 500 orang, yang dibagi menjadi lima komponen. Komponen pertama tes kemampuan awal dan tes kemampuan fisik/skill atlet Rp 4,530 miliar, proses pembinaan kepelatihan perfoma tinggi (belanja bahan, belanja jasa profesi, belanja perjanana biasa Rp 420, 048 miliar, dukungan khusus (kompetisi, training camp, sports science, kesehatan, nutrisi dan pelatih asing) Rp 202,542 miliar, dukungan umum manajemen Rp 30,694 miliar, dan paralympic Rp 74,986 miliar.

"Saat ini di Prima ada 52 cabor sampai SEA Games dengan jumlah di atas 1.000 atlet dan ofisial. Ini yang harus dikembalikan lagi ke posisi awal. Artinya apa? Akan terjadi rasionalisasi menuju Asian Games. Jumlah ini lah yang tengah digodok kami bersama-sama cabor dengan standar yang ditetapkan oleh Dewan Prima," Soetjipto menjelaskan.

"Tapi, kami harus hati-hati karena anggaran (Rp 734,8 miliar) ini belum keluar, tapi kami harus menggunakan pradipa. Jadi bulan sekarang kita harus sudah menyusun kebutuhannya. Tentunya, Satlak Prima akan bersama-sama dengan birokrasi untuk menyusunya. Karena itu ranahnya yang paling berat," dia menambahkan.

Menurut Soetjipto, penyusunan ini penting dilakukan secara cepat agar pihaknya dapat melakukan lelang sehingga pengiriman sudah bisa dilakukan Januari.

"Sekarang kami tengah bekerja di sisi itu. Tapi di sisi prestasi tentu tetap kami berpendapat level perfoma SEA Games bisa dijadikan salah satu acuan dasar untuk menyusun rencana program latihan menuju Asian Games. Oleh karena itu pasti akan ada prioritas, akan ada seleksi baru untuk atlet, pasti akan ada penetapan training camp dan try out dan itu perlu hitungan rupiah yang teliti," ucapnya.

Kriteria prioritas yang dia maksud tak hanya berkaitan dengan cabor yang potensi emas, melainkan cara pemberian dukungan bagi cabor prioritas.

"Seperti apakah cabor itu atletnya punya peluang meraih medali tinggi. Kemudian, bagaimana sampai akhir desember ini mengelola mereka apakah perlu diberi pelatih asing, dikirim ke luar negeri, kalau iya berapa lama? kompetisi apa yang diikuti? Suplemen yang diberikan apa saja? Treatment apa yang diberikan. Itu yang kami sebut prioritas anggaran ke sana," tutur Tjipto yang juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut itu.

"Data ini pula yang masih kami tunggu dari cabor-cabor sampai awal Oktober ini. Karena 1 Oktober kami akan keluarkan SK atlet pelatnas yang baru untuk Asian Games," dia menyebutkan.



(mcy/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed