Tak Ada Compound di Asian Games 2018, Perpani Terkejut

Tak Ada Compound di Asian Games 2018, Perpani Terkejut

Mercy Raya - Sport
Selasa, 26 Sep 2017 18:40 WIB
Tak Ada Compound di Asian Games 2018, Perpani Terkejut
Foto: Tomi for detikSport
Jakarta - Manajer tim pelatnas panahan, Freddy Rosandi, sempat optimistis Asian Games 2018 kembali memperebutkan emas dari compound. Tapi, harapan itu tak terwujud.

Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) telah mengumumkan 462 nomor pertandingan dari 40 cabang olahraga di Asian Games. Namun, tak ada compound di antaranya.

"Saya baru diinformasikan oleh wakil Satlak Prima, Lukman Niode, yang menyebutkan bahwa hanya recurve yang dipertandingkan di Asian Games nanti, sementara compound tidak ada. Padahal, kita punya kekuatan besar di sana," kata Freddy, ketika ditemui di Kantor Kemenpora, Senayan, Selasa (26/9/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkaca hasil SEA Games 2017, compound menyumbang dua medali emas dan satu perunggu. Dua emas didapatkan dari tunggal putra dan putri, sedangkan perunggu dari beregu putri.

Perpani pun sudah membeberkan potensi medali di Asian Games kepada Satlak Prima. Sejak awal mereka berharap INASGOC mampu memasukkan compound di Asian Games 2018.

"Ya, itu masalah Prima. Sejauh ini kami sudah memberikan informasi semua kepada Prima. Tapi kembali semua yang memutuskan ada OCA," Freddy menjelaskan.

Compound memang disiplin baru di Asian Games. Compound mulai dilombakan di Asian Games pada 2014 di Incheon, Korea Selatan. Saat itu, Indonesia pulang dengan tangan kosong.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal INASGOC, Eris Herryanto, mengatakan cabang olahraga dan nomor event Asian Games 2018 sudah terkunci. Artinya, tuan rumah tak memiliki ruang untuk menegosiasi.

Lagipula, menurut Eris, cabor dan nomor event yang sudah disepakati sudah diketahui oleh Satlak Prima (Achmad Soetjipto) dan Sekretaris Menpora, Gatot S. Dewa Broto. Itu terjadi pada rapat Koordinasi Komite ke-7 di Hotel Mulia, Jakarta, pada 18 Agustus 2017. Dan menurut OCA, hasil Koorkom merupakan hasil tertinggi dari sistem di olahraga.

"Setiap negosiasi tentang olahraga kami selalu mengikutsertakan Satlak Prima. Tidak hanya mereka, Kemenpora kami sertakan. Begitu saat Koorkom 7, Ketua OCA Coordination Committee Tsunekazu Takeda yang mengatakan sendiri kepada saya bahwa ada tandatangan dari rekan anda yang menyetujui soal cabor tersebut. Jadi asumsi saya mereka sudah setuju," kata Eris terpisah.

"Kami mempertimbangkan kemungkinan kita. Tapi negosiasi kemarin sangat bergantung pada Satlak Prima karena mereka yang tahu. Jadi ini tolong dipahami. Ada wadahnya dan salurannya, dan kami tidak pernah meninggalkan beliau," kata dia.


(mcy/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads