detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 31 Okt 2017 13:35 WIB

Imbas Pembubaran Satlak Prima, Rencana PRSI Pelatnas di Australia Terancam Kandas

Mercy Raya - detikSport
I Gede SIman Sudartawa terancam batal pelatnas di Australia. (Sigid Kurniawan/Antara Foto)
Jakarta - Rencana Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) untuk menggelar pelatnas di Australia terancam kandas. Dana yang dijanjikan masih gelap.

Renang sudah mulai menggeber persiapan menuju Asian Games 2018 sejak 1 Oktober di Bali. Sebanyak delapan perenang terbaik Tanah Air mengisi pelatnas, I Gede Siman Sudartawa, Gagarin Nathaniel, Indra Gunawan, Triadi Fauzy Siddiq, Glenn Victor, Ricky Anggawijaya, Aflah Fadlan Prawira, dan Azzahra Permatahani.

Awalnya, Siman dkk. akan dipoles di Australia mulai 10-15 Desember. Mereka sudah menyerahkan proposal kepada Satlak Prima.

Tapi, pada prosesnya Satlak Prima dibubarkan. PB lah yang kemudian bertanggung tawab etrhadap pelaksanaan pembinaan atlet.

Namun, proses peralihan tugas dari Satlak Prima kepada PB belum detail sampai saat ini. Situasi itu membuat PRSI ragu-ragu untuk meneruskan rencana. Mereka khawatir proposal tak sampai kepada pemerintah dan dana tak bakal cair. Faktanya, sampai saat ini tidak ada komunikasi dengan cabang olahraga dan pemerintah.

"Semula, kami akan TC di Australia selama sebulan karena di sana sedang summer jadi banyak pertandingan yang akan digelar. Harapan kami, banyak atlet juga bisa ikut turun. Tetapi karena Satlak Prima dibubarkan, program training camp itu jadi menggantung," kata pelatih renang nasional, Albert C. Sutanto, kepada detikSport, Selasa (31/10/2017).

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga sebagai kepanjangan tangan Menpora Imam Nahrawi telah menegaskan bahwa setiap cabang olahraga diminta melanjutkan program 2017, meski Satlak Prima kini telah dibubarkan. Pemerintah juga meminta cabor-cabor untuk tetap melakukan pemusatan latihan kepada atletnya menyesuaikan dengan SK yang sudah dikeluarkan Prima awal Oktober lalu, termasuk pengajuan uji coba bagi beberapa cabor prioritas sampai Desember nanti.

Namun cabor sadar perubahan ini perlu ada transisi. Mereka khawatir jika terlalu berinisiatif, cabor malah rugi sendiri. Pasalnya, piutang PRSI sebelumnya saja belum dilunasi pemerintah.

"Istilah katanya jadi ya sudah lah. Karena kami tidak dihubungi dan akan seperti apa, kami tidak tahu. Tapi untuk pelatnas kami laksanakan. Cuma untuk training camp ini kan biayanya besar. PRSI khawatir jika dana itu tidak ada berarti tanggungan PB dan itu biayanya besar. Guna mengakomodir 8 atlet pelatnas ditambah lima pelatih, satu bulan, sekitar Rp 600- 700 juta," Albert menjelaskan.

"Apalagi terus terang ada yang belum terbayarkan Kemenpora terkait biaya uji coba cabor renang sebelumnya ke Neogarden, Singapura, Juni lalu sebesar Rp 500 juta lebih. Jadi melihat itu dulu," dia membeberkan. (mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com