DetikSport
Sabtu 04 November 2017, 19:16 WIB

Tips & Trik Agar Tetap Sehat Selama Lomba Lari

Mercy Raya - detikSport
Tips & Trik Agar Tetap Sehat Selama Lomba Lari Foto: Facebook Andi Nusaiful
Jakarta - Meninggalnya peserta lari Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 100, Andi Nursaiful, jadi pelajaran penting. Cek kesehatan wajib dilakukan sebelum ikut lomba lari.

Setelah sepakbola, dunia olahraga kini dikejutkan dengan meninggalnya salah satu peserta lari Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 100.

Andi Nursaidul, 48 tahun, warga Depok, pehobi naik gunung. Sabtu (4/11/2017) pagi, dia ditemukan rekannya sudah dalam keadaan meninggal di kawasan Ranupane, yang merupakan rute BTS Ultra 70 Km yang diikutinya. Pemeriksaan dokter mengatakan jika Andi mengalami serangan jantung.

Insiden ini sebenarnya bukan lah yang pertama. Di event-event lari, tak jarang beberapa peserta yang pingsan bahkan meninggal karena alasan tertentu, termasuk kesehatan jantungnya.

Dokter olahraga Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Ermita I. Ibrahim Ilyas mengingatkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan peserta sebelum mengikuti lomba lari. Selain persiapan, memeriksa kesehatan menjadi paling krusial.

"Apalagi jika seseorang itu sudah berusia. Untuk kasus Andi yang sudah berusia 48 tahun memang cukup riskan. Kadang-kadang belum ketahuan ada penyakit jantung padahal ada, lalu ikut lari," kata Ermita kepada detikSport.

"Sekarang ini kan semakin muda ya karena semakin banyak faktor-faktor. Bisa dari makanan, kemudian apakah sering mencoba lari dengan jarak jauh, kemampuan berlari, persiapannya, lingkungan, jadi banyak faktor yang berperan sehingga bisa mempengaruhi kondisi orang ketika berlari," ujar dia kemudian.

"Jadi yang terpenting adalah pemeriksaan kesehatan dulu. Itu yang paling utama. Jika pria itu di usia 35 tahun ke atas harus periksa. Sementara perempuan bisa 45 tahun. Apalagi jika event larinya seperti pelari ultra. itu berat sehingga kita sendiri harus tahu kondisi kesehatan."

Dengan mengetahui kondisi kesehatan diri sendiri, kata Ermita, akan lebih mudah seseorang untuk mengetahui kemampuannya saat berlari. "Artinya, jika merasa sudah tidak enak badan, lelah, keringat dingin, jantung berdegup kencang, itu harus berhenti. Jadi harus mengetahui benar-benar seperti apa kita harus berhenti. Duduk, diam, sampai perasaannya tenang. Kemudian lapor untuk cek kesehatan," ujar Ermita yang juga berprakter di RSCM Kencana, Jakarta ini.

Selain cek kesehatan, pelari juga harus melakukan sejumlah persiapan selama kurang lebih 6 bulan sampai satu tahun.

"Ada yang latihan enam bulan atau setahun tapi itu tergantung dari tingkat kesehatan dan kebugaran seseorang. Jika dia ingin hanya finish saja ya tidak perlu seperti atlet latihan bertahun-tahun. Karena kalau atlet kan memang mencari kecepatan," katanya.

"Bagi pemula memang harus pelan-pelan dimulai dengan lari jarak pendek dulu, 5 kilometer. Jika memang ingin mencoba yang berat mesti benar-benar latihannya dan tahu kemampuannya," dia menyarankan.

"Begitu soal pola makannya. Biasanya jika berlari jarak jauh itu cadangan makanan untuk pembentuk energi semakin berkurang ya.

"Nah, cadangan makanan untuk exercise itu adalah karbohidrat. Jadi yang harus dipersiapkan betul adalah karbohidratnya dengan memperbanyak asupan makanan seperti nasi, kentang, roti, karbohidrat yang kompleks ya. Bukan seperti sirup atau gula," Ermita memberikan tips.
(mcy/rin)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed