Hal tersebut disampaikan anggota Medical Services Committee & Anti-Doping INASGOC, Wiena Octaria, dalam diskusi terkait doping bersama pewarta pada Rabu (15/11/2017).
Wiena mengatakan, saat ini pihaknya terus berkerja dalam menyukseskan Asian Games, salah satunya terkait multievent yang bebas dari doping. INASGOC berencana bekerja sama dengan laboratorium di Doha dan tengah menunggu lampu hijau dari OCA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertimbangan memilih Doha, kata Wiena, di antaranya adalah anggaran dan penerbangan. Meski dia tidak bisa menyebutkan angka pasti yang dibutuhkan untuk bidang doping dan medical, namun menurutnya Doha memiliki harga yang lebih realistis.
"Sebenarnya negara Asia yang merupakan pecahan Rusia itu banyak seperti Kazakhstan misalnya, kemudian Korea juga dan Jepang. Tetapi keduanya itu ada ajang yang bisa dibilang sample-nya bisa memenuhi dan ada pemeriksaan Februari nanti. Sementara China juga ada. Tapi sebesar China tidak perlu menunggu multievent, dengan mereka membuat games saja sudah memenuhi kuota," katanya.
Sedangkan Doha sendiri baru lepas masa sanksi jadi mereka sedang tahap promosi. "Sementara Thailand, frekuensi pengiriman sample baru lima sampai enam penerbangan. Sementara Doha bisa lebih dari itu. Maka itu kami pilih Doha, selain jam penerbangan mereka juga banyak, juga terkait anggaran," ujar Wiena.
Sejauh ini, menurut Wiena, timnya telah mengirimkan rekomendasi Doha kepada OCA pada tiga pekan lalu. Saat ini pihaknya masih menunggu persetujuan atas rekomendasi itu. "Harapan kami secepat-cepatnya supaya kami juga bisa lebih fokus kepada hal-hal teknis lainnya," ungkapnya.
INASGOC berkoordinasi dengan Lembaga Anti Doping Indonesia untuk mensosialisasikan daftar zat terlarang kepada atlet-atlet Indonesia.
"Yang namanya doping itu tricky. Seperti Maria Sharapova dia sendiri tak tahu kena doping atau tidak. Jadi masalah sosialisasi sebenarnya tergantung dari WADA (Badan Anti Doping Dunia) kepada representatif negara sejauh apa. Karena apa yang ada dalam daftar tahun 2015 belum tentu dianggap doping juga," tutur Wiena.
(mcy/mfi)











































