DetikSport
Kamis 16 November 2017, 01:55 WIB

INASGOC Butuh 1.400 Dokter dan Paramedis untuk Asian Games 2018

Mercy Raya - detikSport
INASGOC Butuh 1.400 Dokter dan Paramedis untuk Asian Games 2018 Anggota Medical Services Committee & Anti-Doping INASGOC, Wiena Octaria (Dokumentasi INASGOC)
Jakarta - Panitia penyelenggara Asian Games (INASGOC) membutuhkan sekitar 1.400 dokter dan paramedis untuk menyukseskan Asian Games 2018. Tenaga kesehatan sebanyak itu untuk menangani masalah seperti cedera atau penyakit lain ketika penyelenggaraan berlangsung.

Anggota Medical Services Committee & Anti-Doping INASGOC, Wiena Octaria, mengatakan, saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan tiga badan organisasi bidang kesehatan, yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Perhimpunan Dokter Ahli Emergensi Indonesia (Perdamsi), dan Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO).

Peran Kementerian Kesehatan adalah untuk memberi pelatihan kepada dokter dan paramedis yang akan diturunkan pada penyelenggaraan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Saat ini, kata Wiena, Kemenkes telah memberi pelatihan kepada sekitar 500 paramedis dan dokter sejak awal November lalu.

"November ini kami dibantu Kemenkes untuk memberi kepelatihan dan terbagi dalam 7 angkatan, dengan maksimal 1 angkatan terdiri dari 100 orang. Saat ini sudah masuk angkatan 5 yaitu sekitar 500-an," kata Wiena dalam diskusi terkait doping bersama pewarta di Jakarta pada Rabu (15/11/2017).

Wiena menjelaskan, jumlah tersebut masih kurang, apalagi ada 40 cabang olahraga yang dipertandingkan. Jumlah itu belum diakumulasikan dengan venue non kompetisi seperti Media Press Center (MPC) dan hotel. "Jadi mau tidak mau memang harus jaga secara bergantian (shift-shift-an)," katanya.

"Kami juga meminta tolong kepada dinas kesehatan yang ada di luar Jakarta, karena ada beberapa cabang olahraga yang pertandingannya di luar Jakarta dan Palembang, seperti di Subang, bisa melibatkan dinas kesehatan Bandung. Tapi, harus sudah diberi kepelatihan juga karena salah satu fungsi kepelatihan itu adalah rekrutmen juga."

"Jadi kami punya list nama, jadi nanti diberi kepelatihan, kemudian dinilai oleh Ikatan Dokter Indonesia. Jika lolos dari Departemen Kesehatan dikirim ke INASGOC untuk diakreditasi karena harus pakai kartu pengenal juga," jelasnya.

Sementara itu, Louise Kartika, anggota Bidang Kesehatan dan Pengendalian Doping INASGOC, mengatakan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan terkait rumah sakit-rumah sakit yang akan menjadi rujukan penanganan kesehatan bagi atlet dan ofisial peserta Asian Games.

"Kami membutuhkan minimal 15 rumah sakit di Jakarta dan enam rumah sakit di Palembang. Rumah sakit-rumah sakit yang menjadi rujukan itu juga harus punya akses khusus untuk atlet dan terpisah dari pasien umum," ujar Tika.

"Begitu pula dengan penggunaan peralatan dan obat-obatan dalam pelayanan kesehatannya harus yang mengikuti standar dari OCA (Dewan Olimpiade Asia) juga," tambahnya.



(mcy/mfi)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed