Selain menyiapkan dari venue dan prestasi, pemerintah juga mematangkan penyelenggaraan Asian Games 2018. Indoensia memiliki pengalaman serupa pada 1962.
Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan INASGOC, Erick, memastikan persiapan terus digeber meskipun dana diefisiensikan. Dalam perencanaan anggaran penyelenggaraan Asian Games mencapai Rp 8,7 triliun tapi direalisasikan menjadi sekitar Rp 5,6 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski jumlah anggaran dipangkas, namun, kata Erick, level penyelenggaraaan diharapkan tetap setingkat Olimpiade.
"Tidak boleh kalah dari Malaysia saat SEA Games 2017 tapi kalau bisa hampir setara olimpiade. Yang Kami tahu, dana Malaysia itu USD 25-35 juta. Itu hanya SEA Games. Kalau Olimpiade Rio de Janeiro itu hampir USD 80-100 juta. Nah, kami akan cari angka tengah. Kami tidak mau mewah-mewah, tapi kita juga tidak mau kalah dengan Malaysia. Yang kami ingin coba apakah hasilnya bisa seperti Olimpiade Rio," dia menjelaskan.
"Saat ini tim sedang fokus bekerja, kira-kira Januari-Februari sudah kami baguskan konsepnya seperti apa, dia menambahkan.
Dengan kebutuhan dana dan gelontoran dana dari pemerintah yang masih memiliki gap sebesar Rp 1,1 triliun, Erick tak khawatir. Dia optimistis biasa dapat ditutupi lewat bantuan sponsor.
"Yang defisit kan kita cari dari sponsor. Dari Kemenkeu untuk 2018 sudah ada Rp 1,78 triliun dan mungkin ada tambahan lagi dan sisanya kan dari sponsor. Angka ini terus naik turun. Bukan berarti kami ingin foya-foya, ini juga uang rakyat dan negara, jadi harus potong anggaran terus kan, tapi tidak boleh hasilnya jelek," dia membeberkan.
(mcy/fem)











































