DetikSport
Kamis 14 Desember 2017, 15:25 WIB

Kisah Pelari Legendaris Indonesia tentang Kejutan dari Pemerintah

Mercy Raya - detikSport
Kisah Pelari Legendaris Indonesia tentang Kejutan dari Pemerintah Carolina Rieuwpassa (Foto: Mercy Raya)
Jakarta - Carolina "Nina" Rieuwpassa menjadi salah satu atlet legendaris Indonesia yang dapat penghargaan dari pemerintah lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Hal itu jadi kejutan tersendiri buatnya.

Ponsel Tante Nina, demikian ia biasa disapa, berdering pada hari Selasa (12/12/2017). Di ujung saluran telepon, seseorang yang mengaku dari pihak Kemenpora menyatakan ia sebagai salah satu yang akan menerima penghargaan dari pemerintah.

Tapi ia tidak lantas percaya begitu saja. Tante Nina risau yang menghubunginya hanya orang iseng belaka. Barulah setelah yakin dengan kebenarannya ia langsung minta tolong kerabatnya untuk memesan tiket dari Makassar ke Jakarta.

Pada prosesnya, Tante Nina dan sejumlah legenda olahraga Indonesia lainnya menerima penghargaan atas prestasi dan kontribusinya kepada dunia olahraga Tanah Air. Acara berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (13/12) malam.


"Tidak menyangka karena saya mendapatkan informasi dari Kemenpora satu hari sebelum acara digelar. Makanya saya langsung terbang ke sini dan rencana besok langsung pulang ke Makassar," kata Carolina yang mengaku terharu atas perhatian pemerintah.

Sebagai catatan, Carolina merupakan sprinter putri pertama yang menjadi wakil Indonesia di Olimpiade. Dia tampil di Olimpiade 1972 Jerman dan 1976 di Kanada.

Pada zamannya, Carolina merupakan pelari berprestasi setelah sukses meraih medali perak dan perunggu Asian Games 1970 Bangkok pada nomor 100 dan 200 meter. Atas prestasinya itu, dia kemudian mendapat kesempatan untuk latihan di Jerman selama tiga bulan.

Pencapaiannya itu sendiri diraih dengan kerja keras. Apalagi saat itu persaingan atlet cabang atletik sangat ketat karena setiap nomor cuma dapat mengirimkan satu atlet untuk berlatih di luar negeri. Berbeda dengan saat ini.

"Karena itu, saya yang datang dari daerah, Makassar, dan putus sekolah jika tidak bekerja keras tidak akan bisa. Nah, caranya dengan apa (bertahan) ya membalasnya dengan prestasi," kata dia.

Carolina juga bicara mengenai gelaran Asian Games yang akan berlangsung di Indonesia tahun depan. Ini menjadi kali kedua Indonesia menghajat pesta olahraga se-Asia tersebut setelah 1962.

Ia antusias menyambut ajang tersebut. Mengakui tidak terlalu mengikuti bagaimana proses perkembangan latihan atlet untuk menghadapi Asian Games, Carolina tetap optimistis target 10 besar dari pemerintah bakal terwujud asalkan persiapan dilakukan dengan benar dan para atlet mendapatkan dukungan penuh dalam melakukannya.

"Jadi mesti ada pengalaman ke luar negeri. Saya dulu latihan di Jerman bisa sampai 3 bulan, saya pergi bertanding saya ikut Olimpiade, Universiade. Itu yang memacu saya. Walau lawan saya dunia tapi saya ada sparring untuk prestasi dan itu memotivasi saya untuk terus berprestasi," ucap dia menyarankan.



(mcy/krs)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed