detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 15 Des 2017 17:59 WIB

Catatan-catatan untuk Venue Akuatik Usai Gelar Test Event

Mercy Raya - detikSport
Foto: Mercy Raya/detikSport Foto: Mercy Raya/detikSport
Jakarta - Indonesia harus segera bergegas untuk membenahi kekurangan Stadion Akuatik Senayan sebelum pesta akbar Asian Games benar-benar berlangsung 18 Agustus-2 September mendatang.

Menggelar multievent olahraga jadi tantangan besar untuk banyak negara. Selain dana gelaran yang besar, tuan rumah dituntut untuk menjadi penyelenggara yang sukses dan pada saat bersamaan juga meraih keberhasilan dalam prestasi di atas lapangan.

Hal itu lah yang kini dialami Indonesia. Mendapat 'hibah' dari Vietnam untuk menjadi tuan rumah Asian Games membuat Indonesia harus benar-benar membuat perencanaan yang rapi.

Apalagi waktu yang tersisa untuk persiapan praktis cuma empat tahun. Itu pun sudah dipotong setahun, lantara Asian Games sedianya 2019 namun dimajukan karena Indonesia akan melakukan pemilihan Presiden.

Selain panpel, Kementerian dan Lembaga terkait juga bergegas untuk menyiapkan hal lainnya. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, misalnya. Mereka diminta untuk mempersiapkan infrastruktur.

Dimulai sejak Desember 2016, beberapa venue kompetisi dan non kompetisi Desember 2017 sudah mulai kelihatan wujudnya. Beberapanya bahkan sudah ada yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Termasuk di antaranya venue Stadion Akuatik Gelora Bung Karno Senayan. Venue yang disebut-sebut sebagai salah satu venue akuatik termegah di Asia ini didesain menyesuaikan dengan zaman sekarang.

Atap gelombang yang terbentang selebar 86 meter dengan konsep semi tertutup membuat stadion ini banyak dikagumi. Namun setelah diujicobakan, venue ini rupanya menyimpan sejumlah catatan.

Hal itu tampak pada test event akuatik yang berlangsung sejak Jumat (5/12) dan dijadwalkan berakhir hari ini (15/12/2017). Sejumlah atlet dan pelatih mengkritik fasilitas yang dinilai masih kurang layak. Tidak hanya masalah keamanan lantai menara cabang akuatik, start block, hingga lantai keramik yang licin.

Asisten manager venue Asian Games, Hartadi Noertjojo, mengamini adanya keluhan itu. Dia juga mengakui jika ada beberapa hal yang masih belum ideal.

"Memang start block kolam renang belum memenuhi syarat, masih goyang. Yang paling parah lagi keramik ini licin. Keramik ini dimanapun kolam tidak bisa seperti ini. Jika didiamkan tanpa karpet pasti banyak insiden," Hartadi mengungkapkan.

"Solusinya memang harus ganti keramik atau seluruh lantai dilapisi karpet, atau minimal bagian yang terkena air. Sekitar kolam," ujar dia lagi.

Masih menurut Hartadi, dibandingkan dengan kolam renang di Kejuaraan Dunia atau event internasional lainnya, idealnya seluruh lantai kemarik dilapisi karpet.

"Hampir semua ditutupi karpet. Kalau di Singapura itu beda mereka tetap pakai lantai keramik tapi jenisnya keset dan cenderung lunak. Kalau ini keras dan tidak ada yang menggunakan keramik jenis ini," katanya.

Hartadi mengatakan pada saat renovasi sebenarnya pihak kontraktor dan PRSI telah melakukan koordinasi terkait standar yang sudah ditetapkan.

"Rasanya semua merk sudah tertera di sana semua. Lalu akhirnya tidak sesuai ekpetasi? saya tidak tahu," katanya.

Ditambahkan dia, sejauh ini beberapa laporan sudah masuk, tinggal nanti dilakukan beberapa perbaikan usai test event ini.

"Ini screen display untuk menampilkan catatan waktu atlet yang berada di tempat pemberian medali juga memiliki resolusi yang kurang bagus dan cenderung kecil. Ya, solusinya paling mungkin menambah screen display lagi," usulnya.

Pelatnas akuatik sendiri rencananya akan menggunakan stadion akuatik. Namun jika stadion akuatik harus menjalani perbaikan, otomatis perenang nasional Indonesia harus menunggu lebih lama lagi. (mcy/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed