DetikSport
Jumat 15 Desember 2017, 21:43 WIB

Waktu Lima Bulan untuk Sempurnakan Stadion Akuatik GBK

Mercy Raya - detikSport
Waktu Lima Bulan untuk Sempurnakan Stadion Akuatik GBK Stadion Akuatik GBK (Wahyu Putro A/Antara Foto)
Jakarta - Indonesia diminta untuk segera memperbaiki berbagai kekurangan dari fasilitas Stadion Akuatik Gelora Bung Karno. Venue harus 100 persen siap maksimal tiga bulan sebelum Asian Games digelar.

Stadion Akuatik GBK, Senayan, Jakarta, telah dipakai untuk test event menuju Asian Games 2018 yang bertajuk CIMB Niaga Indonesia Open Aquatic Championship 2017 pada 5-15 Desember 2017. Namun, selama penyelenggaraan test event itu, ada sejumlah kekurangan yang ditemukan pada venue.


Hal yang paling disoroti adalah terkait fasilitas pendukung pelaksanaan perlombaan seperti start block yang tidak kuat, bulkhead yang salah tempat, lantai licin, hingga atap koridor atlet menuju panggung pemberian medali dinilai tidak memenuhi standar internasional.

Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) mengakui ada beberapa kekurangan yang harus segera diperbaiki setelah test event ini berakhir. Bahkan mereka sudah mengatur jadwal untuk melakukan rapat koordinasi dengan pihak kontraktor.

"Kami diminta untuk segera menyelesaikan kekurangan ini tiga bulan sebelum Asian Games digelar. Sehingga saat Asian Games venue dalam kondisi benar-benar siap 100 persen," kata Ketua Panitia Pelaksana Test Event Asian Games, Wisnu Wardana, yang juga merupakan manajer venue akuatik Asian Games, dalam jumpa pers di Stadion Akuatik GBK, Jumat (15/12/2017).

Karena Asian Games akan digelar mulai pertengahan Agustus 2018, berarti Stadion Akuatik GBK sudah harus siap 100 persen pada bulan Mei. Dengan demikian, ada waktu sekitar lima bulan untuk menyempurnakan Stadion Akuatik GBK.

"Tentunya untuk lebih detail kami akan tanyakan secara langsung masing-masing disiplin cabang. Tapi secara umum mereka puas bahwa kontruksi dan pembangunan akuatik sudah selesai. Beberapa menyampaikan sudah 80 dan lainnya 90 persen. Hanya tinggal sentuhan terakhirnya saja," ujar dia lagi.

Terkhusus cabang renang, Wisnu yang merupakan Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga PRSI mengakui ada beberapa hal teknis seperti papan loncatan yang diusulkan dipindah ke sisi lain.

"Kami sudah sampaikan dan kondisikan hal ini kepada pihak pembangunan. Ini akan kami tindaklanjuti dan koordinasi agar sebisa mungkin menyiapkan fasilitas yang bisa standar Olympic Council of Asia (OCA) dan juga Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) yang dalam hal ini akan membantu kami berkoordinasi baik venue maupun games," Wisnu membeberkan.

Memperbaiki bulkhead sama artinya membongkar rel dari sisi utara ke selatan yang berada di dekat screen. Padahal, rencana PRSI adalah mulai menggelar pelatnas di Stadion Akuatik pada Januari 2018.

"Untuk bulkhead kami tidak khawatir jika ada pembangunan atau penyesuaian karena masih ada tiga kolam lainnya. Kolam polo air akan digunakan juga untuk tempat latihan renang, jadi jika ada pembangunan di kolam utama saya rasa tidak akan jadi masalah," ungkap Wisnu.

Sedangkan masalah alur atlet, Wisnu belum mau berspekulasi masalah pembongkaran. Pasalnya, sebagian dari Stadion Akuatik merupakan cagar budaya sehingga menurut Undang-Undang harus dilindungi.

"Itu memang sudah menjadi temuan pertama Technical Delegated karena ketinggiannya hanya 180 sentimeter. Sementara ada atlet yang tingginya sampai 198 sentimeter. Jadi sudah kami temukan solusinya. Jadi begitu kami koordinasi dengan kontraktor dan INASGOC," katanya.

"Untuk akreditasi FINA kami sudah sampaikan. Pada dasarnya FINA hanya mengukur panjang kolam, kecepatan, dan lebar kolam. Sementara bulkhead tidak masuk," ujar Wisnu.



(mcy/mfi)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed