TdI dibangkitkan lagi setelah sempat 'tidur' selama enam tahun. Jika sebelumnya digulirkan dalam 10-12 hari, kini race cukup pendek; hanya empat hari dari Yogyakarta ke Bali. Selain itu, TdI naik level dari 2.2 menjadi 2.1.
Kendati lebih pendek dan tak start dari Jakarta, TdI disambut antusias oleh pebalap dan manajer tim. Terutama bagi mereka yang sudah pernah mencicipi TdI di masa lampau.
"Saat mendapatkan undangan Tour de Indonesia sekitar dua bulan lalu, saya terkejut. Rasanya tak percaya kalau Tour de Indonesia ada lagi," kata Firdaus Arsyad, manajer tim Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengingat TdI sebagai ajang balap sepeda yang sangat menarik. Sebab, dimulai dari ibu kota Indonesia, Jakarta, yang tercatat sebagai jalan raya dengan lalu lintas terpadat dan berakhir di Bali, sebuah pulau wisata yang sohor.
Rider Timnas Indonesia, Projo Waseso, juga merasakan sensai berbeda di TdI kali ini. Projo dulu tampil dalam empat TdI sebagai pebalap junior dalam klub. Kini, dia menjadi yang paling senior di dalam klub.
"Yang jelas tugas saya menjadi berbeda. Dulu saya di klub, sekarang saya di Timnas. Nah, di Timnas, sekarang saya juga bertugas untuk mendukung mental yang muda-muda, juga menentukan posisi untuk mencari sprint," ujar dia.
(fem/mfi)











































