detiksport
Follow detikSport
Jumat, 09 Feb 2018 20:15 WIB

Masalah Transportasi Terkuak di Hari Pertama Test Event, INASGOC Godok Solusi

Mercy Raya - detikSport
Foto: Agung Pambudhy/detikSport Foto: Agung Pambudhy/detikSport
Jakarta - Berkaca pelaksanaan test event, Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) bakal secepatnya mencari solusi untuk transportasi. Selain itu, fokus diarahkan untuk akreditasi.

Dalam dua hari pelaksanaan test event, muncul beberapa masalah. Di antaranya, akses menuju venue di kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Publik menilai venue basket, sebagai cabang olahraga yang sudah dipertandingkan, sulit dijangkau. dengan aturan jalan kaki, justru panitia memberikan akses gerbang masuk yang jauh kepada penonton.

Selain itu, sejumlah tim mengeluhkan waktu tempuh dari Wisma Atlet Kemayoran ke Hall A Basket. Dari bagian pewarta, akreditasi tak selesai pada waktunya. Lokasi pengambilan pun berada cukup jauh drai Main Press Center (MPC).

"Bahwa kendala yang terjadi kemarin bukan pembelaan diri. Memang kembali fungsinya melakukan test event adalah mendeteksi apa yang menjadi kekurangan sebagai penyelenggara. Baik itu untuk venue, international, maupun federation-nya," kata Ketua INASGOC, Erick Thohir, dalam jumpa persnya di MPC di Hotel Century, Senayan, Jumat (9/2/2018).

"Karena kalau bicara dua cabor saja seperti voli atau basket saya rasa mudah. Tapi, ini bersamaan yang harus kami antisipasi," dia menambahkan.

Ketua INASGOC, Erick ThohirKetua INASGOC, Erick Thohir (dok. INASGOC)

Untuk masalah waktu tempuh dari Wisma Atlet menuju venue, Erick memiliki solusi. Yakni, dengan meliburkan sekolah.

"Satu sekolah libur itu bisa menurunkan 20 sampai 30 persen kemacetan. Tapi otoritas itu bukan pada kami," kata Erick.

Kemudian opsi lain adalah dengan menyesuaikan jam kantor. Meski pada saat test event ini belum diterapkan. Sebab, panpel sendiri masih memfokuskan menggunakan jalur tol.

"Kami sebagai panitia sepertinya harus ambil dua alternative jalur khusus Asian Games dan tol. Karena kemarin tanpa kemacetan, kami kalau pakai jalur khusus kira-kira 40 menit-an. Jika menggunakan tol bisa mencapai 27 menit," dia menjelaskan.

"Tetapi kemarin ada kejadian yang kebetulan hujan, macet, jadi waktu tempuhnya hampir lebih dari 1 jam. walau sudah pakai tol. Jadi isu nomor satu bagaimana mengurangi kemacetan. Jadi, opsinya pada saat game time untuk masalah transportasi harus dipakai dua opsi itu," dia menambahkan.

Yang harus diantisipasi lainnya, menurut Erick, adalah rotasi dari parkir dan stop dari shuttle. Karena seperti diketahui pada saat game time hanya akan ada dua pintu yang digunakan. Satu pintu penonton yang mesti jalan, satu pintu untuk panitia yang terakreditasi.

"Yang di GBK sudah uji coba, sementara Kemayoran masih dilihat sistemnya. Dan kalau melihat di luar negeri memang pintunya hanay dua, cuma masyarakat Indonesia yang belum terbiasa. Ini yang menjadi catatan kami buat panitia."

Bos Mahaka Group ini juga mengakui masih ada problem dalam sistem informasi dan komunikasi pada ruang kontrol (Main Operation Centre). Hal ini disebabkan karena pertama individu yang dilatih masih belum yang diharapkan, hal lainnya koneksi internet masih belum stabil.

Erick juga menyoroti masalah akreditasi yang masih terkendala hingga dua hari pelaksanaan miniatur Asian Games. Pada test event ini tercatat ada 1.500 volunter dan 532 wartawan yang harus diakreditasi secara bersamaan.

"Ke depan saya akan buat deadline untuk proses akreditasi. Apalagi, ada volunter sampai 15 ribu, belum lagi ada isu visa. Untuk itu, kami minta wartawan tetap kritisi, kami tak akan membela diri. Kami ingin Asian Games nol kesalahan," dia mengharapkan.


(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed