detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 04 Mar 2018 18:10 WIB

Tinju Meredup Karena Kurangnya Pembinaan dan Perhatian Pemerintah RI

Amalia Dwi Septi - detikSport
Pertandingan tinju di SEA Games 2017 (Wahyu Putro A/Antara Foto) Pertandingan tinju di SEA Games 2017 (Wahyu Putro A/Antara Foto)
Jakarta - Cabang olahraga tinju di Indonesia bisa dibilang meredup. Kurangnya pembinaan yang baik membuat olahraga dan seni bela diri itu stagnan.

Indonesia terakhir kali meraih emas di ajang multievent di SEA Games 2017 lalu. Itu pun cuma satu medali emas yang berhasil direbut oleh petinju Aldoms Suguro yang berhasil mengalahkan petinju Thailand Tanes Ongjunta di final kelas 49-52 kilogram.

Persatuan Tinju Seluruh Indonesia (Pertina) ketika itu mengaku kurangnya persiapan dan dana dari pemerintah menjadi penyebab minimnya prestasi tinju. Kini, tak ada lagi petinju-petinju yang menjadi ikon yang mampu mempertahankan prestasinya seperti Syamsul Anwar atau Cris John.

Menurut pengamat tinju Hengky Sitalang yang juga Ketua Pertina DKI Jakarta saat ini kurangnya pembinaan membuat cabor tinju seolah turun pamor. Program pembinaan yang digalakkan oleh Pertina juga diakuinya membutuhkan waktu.

"Memang sedikit agak meredup, eranya sekarang pembinaannya sedang digalakkan karena estafet dari kepengurusan yang dulu. Sekarang yang kami tahu sedang digalakkan dengan membuat pertandingan contohnya adalah Piala Kapolri di seluruh Indonesia dan itu diharapkan bisa bergerak dengan baik," ujar Hengky kepada detiksport.

"Mungkin dari hasil itu nanti akan terlihat lebih baik mungkin kalau sekarang baru awal, jadi terlihat meredup. Tidak ada petinju sebagai ikon. Kalau dulu banyak sepeti Syamsul Anwar. Sekarang tidak ada, sekarang Pertina sedang mencari di pembinaan yang sedang diperbaiki tapi tidak bisa instant dan cepat," lanjutnya.

Tak hanya pembinaan, kemajuan olahraga tinju juga memerlukan perhatian khusus dari pemerintah melalui dana. Sebab menurutnya sejauh ini pemerintah tak sepenuhnya serius memberikan perhatiannya.

"Kalau pembinaan diperbaiki tapi tidak berkesinambungan juga tidak bisa. Butuh perhatian pemerintah seperti uang, financial di backup karena tidak bisa sendiri."

"Perhatian pemerintah saat ini masih biasa saja, ini olahraga luar biasa tidak boleh tanggung karena satu negara kalau mau maju, olahraga harus maju. Kami bisa lihat negara China yang perhatian terhadap olahraga. Kalau kami olahraga nomor berapa. Jadi banyak orang tua yang khawatir anaknya jadi olahragawan karena tidak ada masa depan," tutupnya.


(ads/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed