DetikSport
Rabu 07 Maret 2018, 20:11 WIB

Selain Kemacetan, Kematangan Volunter Jadi PR Utama INASGOC di Asian Games

Mercy Raya - detikSport
Selain Kemacetan, Kematangan Volunter Jadi PR Utama INASGOC di Asian Games Foto: Agung Pambudhy/detikSport
FOKUS BERITA: Menuju Asian Games 2018
Jakarta - Macet dan transportasi Asian Games 2018 menjadi fokus utama menjelang Asian Games 2018. Panitia penyelenggara (INASGOC) dan pemerintah diminta lebih serius mempersiapkannya.

Asian Games 2018 menjadi hajatan besar Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan sekitar 15 ribu volunter untuk menjamu tamu undangan dari 45 negara tersebut.

Berkaca dari hasil evaluasi test event Asian Games yang berlangsung Februari lalu, ajang tersebut menyisakan sejumlah catatan. Masalah volunter menjadi salah satunya.

Untuk test event Asian Games 2018, INASGOC merekrut hampir 1.000 sukarelawan yang berusia 18-40 tahun dan memiliki profesi yang beragam mulai dari mahasiswa hingga pekerja swasta.

Sebelum tugas mereka lebih dulu dites kemudian diberi pelatihan khusus sebelum menjalani tugas dari mulai membantu atlet hingga menjamu penonton.

Namun jumlah volunter yang banyak itu justru menimbulkan persoalan di lapangan. Selain kerap berkumpul dan gugup ketika ditanya, mereka bahkan terkesan tidak menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara benar. Alhasil cukup banyak yang mengeluhkan kondisi tersebut.

Asisten Keuangan INASGOC Gatot S. Dewa Broto mengakui kondisi tersebut. Bahkan saat rapat evaluasi isu soal volunter muncul

"Kami akui pada saat rapat evaluasi disebutkan ada kegagapan banyak volunter. Mereka tidak tahu fungsinya apa padahal mereka sudah ditraining, tapi saat di lapangan mereka tak menjalankan tugasnya. Itu makanya ada yang harusnya menjalankan tugas A tapi mereka menggerombol main hp sendiri," kata Gatot di sela-sela acara talkshow live salah satu radio dengan tema "Mampukan Indonesia menjasi tuan rumah yang baik saat Asian Games?" di Hotel Ibis, Harmoni, Rabu (7/3/2018).

"Ini baru test event. Bagaimana saat game timesnya. Dan volunter ini bukan hanya berpikir untuk Asian Games tapi Asian Para Games juga karena perlakuan untuk atlet difabel akan sangat beda dengan yang biasa," ujar dia kemudian.

Menurut Gatot, INASGOC telah melakukan evaluasi termasuk tidak mengikutsertakan kembali volunter yang perfomance-nya buruk.

"Yang pertama volunter yang ada, kami anggap the best karena seleksinya ketat. Pengurangan sih enggak kecuali saat test event dianggap kurang perfomance ada yang dipertimbangkan untuk tidak diikutkan tapi sampai drastis tidak," ungkap Gatot, yang juga Sekretaris Menpora ini.

Gatot juga menyadari waktu yang menyisakan sekitar 150 hari sehingga INASGOC akan bekerja lebih cepat terkait volunter. Termasuk mengumpulkan kembali para relawan untuk kemudian dimatangkan kembali kemampuannya.

"Di sisi lain untuk long distance-nya, kami berikan modul-modul persiapan sambil apa yang harus dilakukan sekarang karena perkembangan tentang Asian Games sangat cepat," tuturnya.

Selain itu, INASGOC melalui bagian Sumber Daya Manusia menyiapkan beberapa psikolog untuk membantu volunter agar tidak gugup ketika menghadapi pejabat publik atau tamu undangan.

"Karena nanti tekanan saat Asian Games tinggi, selain itu kekecewaan kontingen juga tinggi, mereka akan menjadi orang yang pertama disemprot. Ibaratnya, kami akan menyiapkan mereka seperti kondisi perang yakni kondisi yang tidak sehat secara psikologi," dia menegaskan.

"Poinnya adalah do the best meski tidak bisa seperti China dan Korea yang sudah menyiapkan volunter 2 tahun sebelumnya," dia menambahkan.



(mcy/fem)

FOKUS BERITA: Menuju Asian Games 2018
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed