detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 22 Apr 2018 21:11 WIB

Trek Licin di Indonesian Downhill Bantul, Ateng Mulyadi Juaranya

Mohammad Resha Pratama - detikSport
Indonesian Downhill Urban seri Bantul sudah tuntas hari ini (dok.Indonesian Downhill) Indonesian Downhill Urban seri Bantul sudah tuntas hari ini (dok.Indonesian Downhill)
Imogiri - 76 Indonesian Downhill Urban seri 1 di Imogiri, Bantul, berlangsung dalam guyuran hujan. Ateng Mulyadi berhasil menakluk licinnya trek dan menang.

Pada gelaran Indonesian Downhill Urban di Bukit Hijau Bike Park, Imogiri, Bantul, Minggu (22/4), hujan yang mengguyur membuat peta persaingan berubah. Pasalnya lintasan yang licin dan berlumpur membuat banyak pebalap terjauh.

Di kelas men's elite, Yoga Nugraha awalnya sempat memimpin untuk waktu lama waktu 2 menit 55, 936 dan berpeluang menang. Tapi di saat-saat akhir, Ateng yang start kedua dari posisi 15 membukukan waktu empat detik lebih cepat.


Padahal Ateng sempat dua kali terjatuh sebelum mencatat waktu dua menit 51.681 detik untuk naik podium. Dia mengaku catatan waktunya bisa lebih baik jika saja tidak terjatuh.

"Saya cukup terbiasa dengan hujan karena kalau latihan di Bogor sering hujan. Sebenarnya ada kesempatan untuk ganti ban, tapi saya meyakinkan diri untuk tidak ganti ban karena kalau kalau ganti ban karakter riding malah berubah. Setelah jatuh, saya sempat berpikir paling hanya masuk lima besar. Tapi di pinggir trek banyak teman yang menyemangati dan bilang kalau lawan saya juga banyak yang jatuh," ujar Ateng usai perlombaan dalam rilis kepada detikSport.

Yoga akhirnya harus puas di posisi kedua disusul oleh Afrizal Brasco dengan waktu 3:00.226. Robert Agung Wahyudi yang mencatat waktu tercepat saat seeding run harus puas berada di urutan ke-15.

Turunnya hujan juga membuyarkan prediksi di kelas men's junior. Pahraz Salman Alparisi yang digadang-gadang bisa menjuarai kelas junior terkendala hujan yang turun di tengah lomba. Akibatnya juara nasional downhill kelas junior ini hanya finis posisi ke-11.

Pahraz hanya mencatat waktu 3:31.808 pada kondisi hujan. Usai balapan, dia terlihat sangat kecewa. Hal itu sangat bisa dimaklumi karena saat seeding run dalam kondisi kering, Pahraz mencatat waktu 2:16.205 detik yang merupakan rekor waktu tercepat di seeding run untuk semua kelas.

"Saya sempat beberapa kali tergelincir karena sulit mengontrol sepeda di lintasan yang licin. Hasilnya, saya harus rela kehilangan banyak waktu pada balapan kali ini," tutur Pahraz.

Pembalap asal Gunungkidul, Reno Satria, mendapat keuntungan dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Turun pada saat cuaca panas, Reno mencatat waktu tercepat 2 menit 27,863 disusul Melkisedek dan Muhammad Dava Rizki.

Di kelas master expert A, peraih medali emas SEA Games 2011, Poernomo, mewujudkan ambisinya meraih gelar juara setelah mencatat waktu tercepat 2 menit 37,068, atau hampir dua detik lebih cepat dari Nur Warsito di posisi kedua.


"Saat Seeding Run, saya tidak bisa memaksimalkan hasil karena hanya konsentrasi pada rantai yang bermasalah. Tetapi sebelum babak final, semua kembali saya persiapkan lebih baik agar tidak ada kendala. Alhamdulillah bisa meraih gelar juara di kelas ini," kata Poernomo.

Indonesian Downhill Seri 2 akan berlangsung di Bukit Klemuk, Batu, Malang, 4-5 Agustus. Tapi, sebelumnya akan diselingi Urban Night Race yang rencananya digelar di Umbul Sidomukti, Semarang, 29-30 Juni.


(mrp/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed