DetikSport
Selasa 22 Mei 2018, 16:02 WIB

Aiman Cahyadi Nyaman Beradu Nyali di Jalan Raya Dengan Sepeda

Femi Diah - detikSport
Aiman Cahyadi Nyaman Beradu Nyali di Jalan Raya Dengan Sepeda Atlet balap sepeda AIman Cahyadi (Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta - Aiman Cahyadi menjadi salah satu jajaran elite atlet balap sepeda nomor jalan raya Indonesia saat ini. Dia 'nyaman' beradu nyali di jalan raya.

"Kalau jatuh di kecepatan 70 kilometer per jam sih sudah pernah. Bukan jatuh dari sepeda motor, tapi dengan sepeda ini," kata Aiman, 24 tahun, dalam wawancara One on One dengan detikSport.

Tengok saja siku, lutut, dan beberapa bagian tubuh Aiman. Bekas luka di atas kulit masih terlihat nyata.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, Aiman beberapa kali jatuh setelah tersenggol lawan dalam sebuah balapan. 'Beruntung' dia jatuh di atas aspal. Kulitnya robek, tidak sampai patah tulang.

Baca Juga: Venue Asian Games 2018 di Jabar Belum Beres

Beruntung karena pada insiden di perlombaan balap sepeda jalan raya bisa lebih tragis. Di antaranya, senggolan dengan lawan hingga jatuh ke dalam got, tabrakan beruntun, hingga tertabrak kendaraan yang berakibat luka, patah tulang, dan tewas.

Di balap sepeda jalan raya, risiko itu sudah menjadi paket yang harus diterima. Ya, dalam kecepatan tinggi, di atas jalanan mulus dengan pengamanan yang seideal mungkin, dan hasrat finis pertama, segala cara dilakukan.

[Gambas:Instagram]

Sebagai gambaran, Aiman bisa mencatatkan laju tercepat hingga 72 kilometer pada jalur landai. Di jalur turunan, bisa lebih cepat.

"Laju tercepat untuk lintasan datar 72 kilometer per jam, kalau turunan bisa mencapai 112 kilometer per jam," ujar Aiman.

Baca Juga: Erick Thohir Ungkap Sebab Promosi Asian Games Belum Maksimal

Pernah takutkah Aiman dengan risko-risiko itu?

"Tidak, saya tidak pernah takut," ujar suami pebalap sepeda Yanthi Fuchianty tersebut.

Nyali itu telah membawa Aiman meraih satu medali emas SEA Games 2013 Myanmar di nomor team road race, juga juara etape Tour Selangor dan green jersey Tour Lombok dan red jersey Tour de Indonesia 2018.

[Gambas:Instagram]

Dalam kompetisi itu, Aiman mendapatkan pengawalan tingkat tinggi. Bagaimana jika bersepeda di jalanan umum tanpa pengamanan yang sebenarnya dilarang oleh klubnya saat ini, Sapura Cycling Team.

Tak ada bedanya, Aiman tetap rileks kala harus berlatih sendiri tanpa pengawalan saat tinggal di kediaman mertuanya di Ciawi. Setiap pukul 06.00 WIB dia mulai mengayuh dari rumah hingga KM 0 Sentul.

"Kalau di klub, Sapura, kami dilarang berlatih tanpa pengawalan, karena risiko memang sangat besar. Tapi, karena sedang di rumah dan harus tetap jaga kondisi, saya bersepeda sendiri saja," kata bapak satu anak itu.

Risiko itu diredam Aiman dengan membawa telepon genggam dan selalu lebih berhati-hati saat menemui perempatan. Sedikit kekhawatiran jika ada pihak lain yang kurang hati-hati.

"Yang bikin khawatir itu kalau ada driver yang ugal-ugalan. Tapi, saya menganggapnya sebagai risiko. Nggak pernah menjadi takut dan khawatir," ujar dia.



(fem/krs)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed