detiksport
Follow detikSport
Sabtu, 18 Agu 2018 12:42 WIB

Api Asian Games 1962, dari Majakerta untuk Asia

Sudrajat - detikSport
Foto: Repro: Asian Games 1962 Foto: Repro: Asian Games 1962
Jakarta - Bila disebut Mrapen, sebagian masyarakat niscaya langsung mengenal dan mengingatnya sebagai sumber api abadi. Dari sanalah sumber api obor pekan olah raga nasional yang rutin digelar di tanah air biasa diambil. Begitu pun saat pesta olah raga Internasional Ganefo pada 1 November 1963, api obornya diambil dari daerah Grobogan, Jawa Tengah itu. Tak kecuali Asian Games 2018, memadukan api Mrapen dengan api abadi di Stadion Nasional Dhyan Chand, New Delhi, India.

Tapi bila disebut Majakerta, boleh jadi tak ada yang mengenalnya. Padahal dari sanalah sumber api obor Asian Games IV 1962 diambil. Desa Majakerta berada di Kecamatan Balongan - Indramayu, Jawa Barat. Masyarakat kini lebih mengenal Balongan karena di sana kemudian dibangun kilang minyak milik Pertamina.

Pertamina melakukan pembebasan lahan sejak 1991 dan menggusur beberapa desa di sana. Kilang Balongan mulai aktif beroperasi sejak 1995 di bawah kendali Pertamina.



Api diambil pada 9 Agustus 1962 oleh Wakil Residen Cirebon, Bupati Widagdo, yang mewakili Gubernur Jawa Barat. Pesepakbola Witarsa ditunjuk menjadi pelari pertama pembawa obor, dan pebulutangkis Olich Solichin ditunjuk sebagai pelari terakhir,"tulis Muhammad Yuanda Zara, dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta di situs historia.id.

Panitia Asian Games 1962, ia melanjutkan, menganggap pawai obor merupakan kesempatan istimewa untuk mempersatukan pejabat pemerintah, atlet, dan masyarakat dalam satu semangat: semangat olahraga. Keberhasilan pawai obor akan menunjukkan optimalnya persiapan yang dilakukan tuan rumah, tak hanya untuk urusan teknis seperti fasilitas olahraga dan penginapan atlet tapi juga dalam hal yang sifatnya seremonial.

Oleh karena itu, panitia mempersiapkan pawai obor dengan detail. Prosedur pembawaan obor disusun secara cermat sehingga menarik secara visual dan efisien secara teknis.



Pawai obor mendorong masyarakat daerah setia berkumpul di tepi jalan guna menyambut para pembawa pembawa obor dan kemudian mendengarkan siaran RRI, menonton siaran TVRI (yang dibuat untuk menyiarkan Asian Games), dan membaca berita perkembangan Asian Games di berbagai koran. Pawai obor menyampaikan pesan bahwa Asian Games bukan hanya pesta warga Jakarta tapi juga perayaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sejarawan Depdiknas Amin Rahayu menambahkan, total pelari yang membawa api obor dari Majakerta ke Jakarta ada 700 orang secara bergantian. Mereka melintasi belasan kota di Jawa Barat, seperti Cirebon, Kadipaten, Sumedang, Bandung, Sukabumi, dan Bogor. Total jarak yang ditempuh hingga Jakarta adalah 470 km.

"Di Jakarta, api obor sempat menginap selama empat hari di kantor gubernur," kata penulis buku Asian Games IV 1962, Motivasi, Capaian, Serta Revolusi Mental dan Keolahragaan di Indonesia itu saat ditemui detik.com beberapa waktu lalu di kediamannya, Depok.

Atlet Effendi Saleh, juara decathlon, menjadi pembawa obor ke dalam stadion dan menyalakannya di cauldron. Nyala api yang berkobar merupakan simbol semangat para atlet selama pertandingan. (jat/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed