detiksport
Follow detikSport
Minggu, 02 Sep 2018 06:42 WIB

Loncat Indah Tak Sumbang Medali, Atlet Keluhkan Kurangnya Fasilitas Latihan

Mercy Raya - detikSport
Atlet loncat indah Dinda Anasti Maria Natalie dan Linadini Yasmin (Foto: Mercy Raya/detikSport) Atlet loncat indah Dinda Anasti Maria Natalie dan Linadini Yasmin (Foto: Mercy Raya/detikSport)
Jakarta - Tim loncat indah gagal sumbang medali di Asian Games 2018. Medali perunggu yang diharapkan tidak bisa terwujud lantaran fasilitas latihan yang tidak lengkap.

PRSI menurunkan sembilan atletnya di cabang loncat indah Asian Games 2018. Namun, tak satu pun di antara atletnya yang menyumbangkan medali.

Dominasi China dalam setiap lompatan belum bisa mereka tembus sampai di akhir pelaksanaan pertandingan. Dua atlet Indonesia, Dinda Anasti Maria Natalie dan Linadini Yasmin, yang bertanding di detik-detik akhir Asian Games, hanya mampu berada di peringkat 10 dan 11 dari 12 peserta yang turun nomor papan 3 meter putri.

Usai bertanding, Dinda mengungkapkan rasa ketidakpuasannya. Apa yang didapatkan tidak sesuai target.

"Belum puas karena masih banyak yang harus ditingkatkan karena kalau dilihat dari lama dan jumlahnya kami latihan sebenarnya oke-oke saja. Cuma untuk target pribadi kurang," kata Dinda.

"Target saya sebenarnya semua loncatan bisa di atas 7. Tapi ternyata ada beberapa eksekusi terakhir yang tidak semua loncatan yang mendapat nilai tersebut," ucapnya.


Dinda mengungkapkan kendalanya ada pada kurangnya latihan dan kelengkapan fasilitas latihan, terutama dry land.

"Venue latihan kami ini baru banget dan baru awal tahun bisa pakai. Sementara fasilitasnya belum lengkap. Kami ini latihan tidak hanya di air saja, tapi untuk mencapai satu gerakan yang sempurna harus simulasi di darat juga. Seperti trampolin dan salto-salto. Nah, kebetulan venue yang di darat belum jadi sampai hari ini," dia menjelaskan.

"Penting ibarat 100 persen latihan, bisa dibilang 60 di darat, 40 di air. Karena sebetulnya di air itu cuma untuk meneruskan latihan di darat. Jadi latihan di darat 2 kali salto, kemudian di air 2,5 tinggal masuk saja."

PRSI sempat mengirimkan para atlet untuk training camp di China, tapi, hanya dua bulan. Sementara untuk persiapan selevel Asia dibutuhkan program latihan kontinu.

"Latihan dry land ada trampolin dan matras. Kami ada matras tapi itu hanya satu komponen dari banyak komponen dry land. Kebetulan di China ada dry land tapi latihan kurang dari dua bulan," katanya.


Sementara itu, Lina mengaku banyak memetik pelajaran dari multievent level Asia pertama yang ia ikuti ini.

"Pengalaman sih karena ini Asian Games pertama saya. Gugupnya ada. Karena target sendiri belum tercapai tapi alhamdullilah kami punya kolam baru jadi bisa latihan di sini. Jadi mungkin nanti bisa dikembangkan lagi. Misalnya dengan latihan yang lebih kontinu," ucap Lina.

"Karena atlet China itu dari usia 6 tahun sudah loncat, sudah begitu sehari bisa menghabiskan waktu lompatan kurang lebih 10 jam dalam dua sesi latihan. Sementara kami agak tersendat-sendat. Karena kurang lengkap jadi mesti ganti-ganti tempat latihan," imbuhnya.

(mcy/nds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed