detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 10 Okt 2018 19:51 WIB

Sprinter Korea Selatan dengan Cerebral Palsy Memukau di GBK

Femi Diah - detikSport
Foto: Jeff Pachoud/AFP Foto: Jeff Pachoud/AFP
Jakarta - Sprinter 100 meter T36 andalan Korea Selatan, Jeon Min-jae, meraih tiga medali emas Asian Para Games 2018. Penampilannya memukau penonton yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Min-jae meraih medali emas dari 100 meter T36 (tunadaksa). Dia hanya membutuhkan waktu 14,98 detik untuk menyelesaikan lintasan di trek panas SUGBK pada Rabu (10/10).

Atlet para-athletic berusia 41 tahun itupun diganjar medali emas. Dia sekaligus mencatatkan waktu terbaiknya.




Pada nomor tersebut, medali perak menjadi milik sprinter Hong Kong, Yu Chun Lai dan medali perunggu mendapatkan Wang Dan dari China. Chun Lai mencatatkan waktu 16,28 detik sedangkan Wang Dan membukukan waktu 16,46 detik.

Bagi Min-jae, medali emas itu menjadi koleksi ketiga bagi Minaje. Sebelumnya, dia juga menjadi yang terbaik saat tampil nomor lari 100 meter T36 dan lari 200 meter T36 yang bergulir pada Senin, 8 Oktober 2018.

T36 merupakan klasifikasi bagi atlet tunadaksa dengan cerebral palsy. Min-jae kehilangan kemampuan gerak dan bicara pada usia lima tahun. Tangan dan kakinya lumpuh.

Sang pelatih, Shin Soon-chul, yang sekaligus membantu komunikasi Min-jae, mengatakan raihan medali emas itu sangat berarti bagi anak didiknya.

"Ia menganggap kemenangan saat ini sangat dalam. Asian Para Games kali ini sangat berarti karena bisa memenangi medali emas lagi, kedua kali Asian Para Games," ujar Soon-chul dalam situs resmi Asian Para Games.

Kaki-kaki yang Lincah

Sejak menderita cerebral palsy, masa kecil Min-jae berjalan di luar jalur semestinya. Dalam Koreajoongdaily, ibundanya, Han Jae-yong, menyebut Min-jae terlambat masuk sekolah dasar. Dia belajar di SD mulai usia 19 tahun atau 11 tahun lebih lambat ketimbang anak-anak di negara mereka.

Di sekolah dasar itulah Min-jae mengasah motoriknya. Dia berlatih menulis dan melukis. Bukan dengan tangan, namun dengan kakinya. Hingga kini, tangannya sulit digerakkan. Saat mulai belajar menulis dan melukis itu, Min-jae bermimpi untuk bisa menjadi pelukis.




Mimpi itu berubah di tengah jalan. Saat berusia 26 tahun, dia diarahkan menjadi pelari. Adalah guru olahraganya, Kin Haeng-soo, yang mengubah hidup Min-jae.

Haeng-soo yang menemukan bakatnya. Dia juga yang menyusun program latihan, termasuk latihan beban, jogging, dan diet khusus.

Proses untuk lebih serius berlatih lari tidak mudah. Kuku jari Min-jae ringkih. Dengan tinggi 146 cm, dia juga paling mungil ketimbang atlet lain.

Tapi, Min-jae menutup postur itu dengan kerja keras. Dia berlatih lebih keras dengan memulai latihan lebih pagi ketimbang yang lain.

Kakinya pun makin kuat. Kakinya kian ringan saat diajak berlari.

Sementara tangannya tak selincah kaki-kakinya. Tapi, ibunya bilang, dengan tangannya itulah Min-jae menjadi penanggung jawab kebersihan rumah. Dia yang aktif untuk beberes dan membersihkan kediaman mereka.

Dengan kaki-kaki yang aktif itu, sang pelatih seolah bicara dengannya. Membicarakan apapun.

"Saya menggunakan kaki untuk berbicara dengan Jeon. Hasilnya, ia berhasil mendapatkan medali di dua ajang Asian Para Games," dia menjelaskan.



(fem/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com