detiksport
Follow detikSport
Selasa, 16 Okt 2018 15:14 WIB

Asian Para Games Usai, Apa Warisan yang Ditinggalkan?

Mercy Raya - detikSport
Asian Para Games 2018. (Foto: Agung Pambudhy/Detikcom) Asian Para Games 2018. (Foto: Agung Pambudhy/Detikcom)
Jakarta - Asian Para Games 2018 secara resmi telah berakhir tiga hari lalu. Lantas apa warisan yang ditinggalkan setelah multievent ini?

Asian Para Games berlangsung selama delapan hari, mulai 6 sampai 13 Oktober, yang berpusat di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Cabang olahraga lain ada yang digelar di Sentul, Jawa Barat, juga kawasan Jakarta lainnya.

Agar tak sekadar menjadi inspirasi semu, multievent ini pun diharapkan memberi dampak lebih bagi para penyandang disabilitas.

Panitia Penyelenggara Asian Para Games (INAPGOC) telah membentuk tim legacy Asian Para Games yang terdiri dari tiga tim ahli dan anggota survei berjumlah 36 orang. Pembentukan dilakukan tiga hari sebelum multievent olahraga atlet penyandang disabilitas se-Asia itu resmi dibuka.

Mereka bekerja sejak dimulainya Asian Para Games hingga 14 Oktober lalu, jumlah responden kini sudah mencapai lebih dari 1.000 orang. Pengambilan pendapat kepada responden dilakukan baik secara online maupun offline.

Salah satu tim ahli warisan Asian Para Games 2018, Cucu Saidah, menjelaskan tujuan diadakan tim legacy adalah untuk memberi rekomendasi kepada pemerintah tidak hanya bidang olahraga saja tapi apakah Asian Para Games ini meninggalkan sesuatu yang membawa pengaruh positif. Pasalnya, aturan aksesbilitas standar itu sudah ada yakni UU Nomor 8 tahun 2016 tentang disabilitas.




"Tapi seberapa jauh aturan itu sudah dilaksanakan atau diimplementasikan?" kata Cucu kepada detikSport, Selasa (16/10/2018).

Maka itu, masa jajak pendapat tersebut pun masih diperpanjang terutama melalui online untuk mendapat umpan balik yang lebih lengkap dan objektive.

"Karena ini instrumentnya cukup luas. Jadi responden yang kami gali tak hanya atlet atau ofisial atau penonton tapi juga masyarakat umum. Kami ingin tahu sejauh mana persepsi masyarakat terhadap disabilitas, dengan harapan mereka memahami apa itu disabilitas," ujar dia.




Hal senada diungkapkan Aktivis gerakan sosial untuk kaum disabilitas, Bahrul Fuad. Dia berharap dengan warisan yang ditinggalkan setelah Asian Para Games bisa berdampak ke seluruh bidang.

"Menginpirasi pengambil kebijakan untuk sadar bahwa fasilitas umum harus ramah disabilitas. Karena dengan ramah anda bisa menciptakan orang-orang yang dapat berkontribusi dalam pembangunan bukan hanya masyarakat kelas dua yang harus dibantu," kata Bahrul, terpisah.

"Di sisi lain kepada masyarakat harus bisa mengubah cara pandang mereka terhadap disabilitas dari sebelumnya objek disabilitas, jadi sebagai orang berpotensi ketika diberi ruang dan kesempatan."

Legacy lainnya tentu perbaikan kualitas kebijakan lebih inklusi, lebih ramah disabilitas. "Kemudian akses untuk pekerjaan, layanan kesehatan, sekarang ada gempa di Lombok, Donggala berapa orang yang menjadi disabilitas?. Apakah dulu atlet yang kita hargai kemudian menjadi disabilitas karirnya berhenti jika kemudian para games ini tidak diteruskan? Oleh karena itu pembinaan keolahragaan terhadap disabilitas juga sangat penting," ujar dia.

"Sebenarnya di pemerintah sudah ada program kebijakan berkaitan dengan disabilitas. Seperti Bappenas menyusun rencana induk pembangunan inklusi disabilitas. Nanti kami akan masukkan ke sana. Lalu pemerintah di kementerian-kementerian juga sudah menyusun rancangan peraturan pemerintah yang terkait UU nomor 8 tahun 2016 tentang disabilitas. Itu diturunkan di PP, nanti kami masukkan di sana," kata Bahrul menyoal ekspetasi yang diharapkan.

"Karena output dari rekomendasi ini kepada seluruh Kementerian juga seperti Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, Kemenkominfo, banyak nanti," sebutnya kemudian.


Simak Juga 'Judika hingga AOA Meriahkan Penutupan Asian Para Games':

[Gambas:Video 20detik]


(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed