detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 26 Des 2018 13:21 WIB

Aquaman di Dunia Nyata, Aleix Segura Tahan Napas 24 Menit Dalam Air

Mercy Raya, Doni Wahyudi - detikSport
Aleix Segura memegang rekor menahan napas di dalam air (Youtube: Aleix) Aleix Segura memegang rekor menahan napas di dalam air (Youtube: Aleix)
Jakarta - Aquaman dalam cerita DC Comics mampu bernapas di dalam air. Di dunia nyata Aleix Segura Vendrell adalah Aquaman sesungguhnya. Dia bisa tak napas 24 menit.

Arthur Curry (atau Aquaman) dalam film rilisan Warner Bros Pictures yang kini masih tayang di bioskop, diceritakan bisa bernapas di dalam air. Kemampuan tersebut dimiliki dari ibunya yang adalah ratu Atlantis - yang memang tinggal di dalam laut. Sebagai super hero, Aquaman juga dikisahkan punya kekuatan besar dan mampu mengendalikan air.

Lain Arthur Curry, lain pula Aleix Segura. Jika Curry tinggal di kota bawah air, maka Segura tinggal di salah satu kota di Spanyol. Kesamaan mereka berdua, punya daya tahun luar biasa dalam air. Meski yang pertama adalah karakter fiksi, sementara yang kedua bisa ditemui langsung.

Aleix Segura Vendrell memecahkan rekor dunia ketahanan bernapas dalam air pada 28 Februari 2016. Ketika itu Guiness Book of Records mencatat dia mampu menahan napasnya selama 24 menit dan tiga detik.



Pria asal Spanyol itu mencatat rekor tersebut setelah dia sebelumnya selama 30 menit mendapat asupan oksigen murni. Sebagai perbandingan, tanpa bantuan oksigen murni rekor dunia yang tercatat adalah 11 menit dan 54 detik yang dipunya Branko Petrovic.



Apa yang dilakukan Aleix Segura dan Branko Petrovic dikenal dengan Static Apnea. Ini merupakan teknik 'penghentian' pernapasan yang dilakukan dengan berdiam diri. Selama apnea tak ada gerakan otot-otot pernapasan. Pelaku apnea juga umumnya berdiam diri mengambang di permukaan air.

Menurut dokter spesialis olahraga, Angelica Anggunadi, menahan napas dalam durasi yang sangat lama sebenarnya sangat berbahaya. Disebutnya otak hanya bisa tahan tanpa oksigen selama empat menit. Namun dengan latihan, orang akan mampu mencapai batas-batas yang lebih jauh.

"Tentu latihannya dalam keadaan hipoksia (kondisi tubuh kekurangan oksigen), misalnya. Contohnya tempat tinggi itu kan kita sudah berkurang oksigennya. Nah, dengan kita sering berada di tempat yang hipoksia maka tubuh kita akan menyesuaikan diri. Caranya dengan memperbanyak sel darah merah (pengangkut oksigen). Misalnya dalam sekali waktu jumlah pengangkut oksigennya lebih banyak, artinya oksigen yang diangkut jadi lebih banyak. Walaupun dia tidak bisa sering sering dari luar mendapatkan banyak oksigen," kata Angelica Anggunadi pada detikSport.

"Nah di lain sisi dilatih juga ketahanan napasnya itu. Dengan tidak bernapas itu lebih ekstrem lagi dari hipoksia. Tidak ada oksigen yang masuk dari pernapasan, hanya mengandalkan oksigen yang ada dalam tubuh. Nah, dengan banyaknya sel darah merah yang terbentuk maka cadangan oksigen semakin banyak. Karena cadangan itu terletak di sel darah merah itu," jelasnya.

Dunia olahraga mengenal juga apa yang disebut sebagai free diving. Dianggap sebagai olahraga ekstreme, free diving menuntut pelakunya bisa menyelam hingga kedalaman ratusan meter dengan satu tarikan napas.



Free diving di laut lepasFree diving di laut lepas Foto: Emily IRVING-SWIFT


Rekor dunia free diving saat ini adalah 214 meter, dengan durasi 11 menit untuk pria dan sembilan menit untuk wanita. Demikian dikutip dari The Conversation.

Free diving lebih menantang (baca: lebih berbahaya) dibanding apnea. Soalnya saat turun 10 meter ke dalam air, tekanan yang didapat tubuh bertambah 1 atmospher. Kondisi itu akan memanipulasi tubuh manusia, anatomi, dan juga berpengaruh pada psikologi.

"Risiko yang paling logis, kaitannya dengan tekanan. Masalah tekanan baru untuk telinga, lalu risiko terbesar emboli. Emboli nitrogen karena dia pakai tabung gas oksigen. Nah tabung oksigen itu bukan murni dia ada kandungan nitrogennya, nitrogennya kalau dia kurang bertahap waktu dia turun ke dalam atau naik ke permukaan. Nah, itu nitrogen dari kandungan tabung oksisgen bisa masuk ke dalam darah dan membuat emboli.

"Emboli itu artinya ada sumbatan, gelembung udara di dalam pembuluh darah yang kecil kecil tak sekadar buble tapi bisa jadi kerikil yang menyumbat. Padahal itu cuma gelembung udara. Bahaya banget," terang dokter 34 tahun itu.

Wired.com pada 2017 pernah bertanya pada Segura apakah rekor dunia miliknya akan bisa dipatahkan. Tanpa keraguan dia menjawab 'iya'. Dia malah yakin manusia akan bisa menahan napas sampai 30 menit.

"Entahlah, 30 menit? Para free diver selalu bisa menembus batas-batas baru. Mematahkan ilmu pengetahuan. Di tahun 1940-an ilmuan yakin tekanan (air) di bawah 100 kaki (sekitar 30,5 meter) akan bisa merobek paru-paru. Sekarang free diver bisa mencapai 300 kaki (sekitar 91,5 meter)."

"Kita selalu berpikir kita sudah mencapai batas. Tapi kita selalu salah," katanya. (din/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed