detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 07 Mar 2019 03:55 WIB

Acchedya Gagal Tes Doping, Pelatih Akui Kecolongan

Mercy Raya - detikSport
Acchedya Jagaddhita dinyatakan gagal dalam tes doping (Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Helmi Afandi/YU/18) Acchedya Jagaddhita dinyatakan gagal dalam tes doping (Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Helmi Afandi/YU/18)
Jakarta - Lifter putri, Acchedya Jagaddhita, dinyatakan gagal dalam tes doping oleh International World Federation (IWF). Sang pelatih tak menyangka atletnya tersandung doping.

IWF mengumumkan secara resmi keputusan itu pada 28 Februari lewat situs mereka. IWF menyebut telah menemukan zat terlarang dalam sampel A milik Acchedya saat tampil di EGAT's Cup Internasional Weightlifiting Championship pada 7 -10 Februari 2019.

Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI) telah menerima surat pemberitahuan tersebut. Pelatih yang juga ibu kandung Acchedya, Supeni, mengaku kecolongan karena ada komunikasi yang 'hilang' antara dia dan putrinya.

"Intinya anak saya salah, ya tak bisa disalahkan juga. Yang jelas saya bertanggung jawab dengan kejadian ini. PB PABBSI juga tercoreng namanya saya juga mohon maaf," Supeni di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (6/3/2019) saat diminta komentarnya terkait Acchedya.

"Tapi intinya saya tidak mungkin melakukan secara sengaja apalagi ini anak saya sendiri. Kalau saya sengaja melakukan kenapa anak saya? Saya mohon maaf atas ketidaktahuan dan komunikasi yang tidak baik dari anak saya. Sementara atlet lain saja komunikasi. Nah, itu yang jelas saya sayangkan sekali," ujarnya menjelaskan.


Supeni saat ini belum bisa menjelaskan detail obat apa yang mengandung zat terlarang tersebut sampai anaknya terkena doping.

"Menurut LADI tidak ada di dalam suplemen yang dikonsumsi. Ini datangnya dari yang di luar dia konsumsi tiga pekan terakhir. Tapi saya belum bisa menjelaskan secara vulgar karena masih diteliti. Yang jelas ini satu pembelajaran," ungkapnya seraya menyesal.

"Yang pasti saya harus lebih ketat lagi. Makanan yang masuk atau dikonsumsi atlet harus, bukan seperti tim atlet elit lagi, tapi saya harus kembali ke dasar, periksa ke kamar, saya sita. Itu yang harus saya lakukan sekarang ini. Memang banyak problemnya wanita. Nah, itu yang kadang di luar kendali dan malu mengatakan itu," katanya.

"Tapi saya apresiasi sama Dea karena kooperatif. Dalam arti dia tabah, mau membuka semua apa yang dia makan dan lakukan, minum, apa yang dia rasakan selama sebulan belakangan. Saya juga sudah sampaikan ke Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) juga, saya koordinasi juga dengan IWF dan pelatih yang ada," ujarnya menjelaskan.

"Jika ini sebuah kesalahan, atlet tak salah, saya sebagai pelatih yang salah apa yang dialami atlet," tambahnya.

Acchedya sendiri saat ini sudah tak berlatih di mess Kwini, Jakarta. Dia pulang ke Bekasi untuk menyelesaikan kasus yang menimpanya.

"Sidang vonis hukuman masih nanti dan kami masih meneliti soal obatnya yang terkandung zat terlarang tersebut. Acchedya juga lebih tegar ketimbang saya. Hiburan buat saya ketegaran anak saya. Mungkin dia lebih berat lagi tapi kami saling mengingatkan saja," kata Supeni.


(mcy/nds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com