detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 12 Apr 2019 09:03 WIB

Eni Nuraini, Pelatih Terbaik Asia Pencetak Suryo Agung dan Lalu Zohri

Mercy Raya - detikSport
Eni Nuraini baru saja dinobatkan sebagai pelatih atletik terbaik se-Asia (Mercy Raya/detikSport) Eni Nuraini baru saja dinobatkan sebagai pelatih atletik terbaik se-Asia (Mercy Raya/detikSport)
Jakarta - Selasa siang kemarin menjadi hari yang paling mengejutkan sekaligus membahagiakan buat Eni Nuraini. Pelatih Lalu Muhammad Zohri ini disodorkan undangan untuk hadir dalam gala dinner di Doha, Qatar.

Bukan undangan makan malam biasa, Eni di acara tersebut, akan menerima penghargaan sebagai pelatih terbaik di Asia oleh Asosiasi Atletik Asia. Padahal, Eni sebenarnya datang ke kantor untuk memberi laporan hasil kejuaraan saat di Malaysia.

"Saat itu saya cuma bilang ke Ibu Tuti, 'kok bisa? Atas dasar apa saya dapat penghargaan? Tanya saya spontan karena kan kaget," Eni membuka cerita kepada detikSport, soal penghargaan tersebut.

Eni terkejut karena selama puluhan tahun menjadi pelatih tak pernah membayangkan atau bermimpi menjadi pelatih terbaik. Tujuan dia hanya untuk melatih agar atletnya berprestasi.

"Saya enggak ada lah pikiran ke sana. Saya melatih, melatih, saja supaya anaknya bisa bagus. Makanya saya tanya, dasarnya apa? Kemudian dikasih tahu kalau saya berhasil melatih atlet sampai bagus bukan hasil dari orang luar tapi dari orang sendiri. Ya Alhamdullilah," ujarnya mengucap syukur.




Bukan dari atlet atletik

Eni semasa muda bukan lah atlet atletik. Dia sebelumnya merupakan atlet pelatnas renang era 60-an. Dia juga merupakan salah satu penyumbang medali di Asian Games 1962 saat Indonesia menjadi tuan rumah multievent se-Asia.

Saat itu, dia berhasil meraih medali perak di nomor 4 x 100 gaya bebas dan perunggu di nomor 4x100 gaya ganti.

Usai menjadi atlet, Eni sejatinya bercita-cita menjadi pelatih renang. Dia bahkan pernah menjajal menjadi pelatih di salah satu klub renang di Bandung. Namanya Tirta Merta.

Dalam prosesnya, Eni yang dinikahi Sumartoyo Martodihardjo kemudian diboyong ke Jakarta. Dari sana ia bertemu dengan teman-teman semasa dia menjadi atlet dulu, atlet atletik-Eni semasa menjadi atlet lebih banyak memiliki teman dari cabang lari.

"Jadi yang nyuruh ikut penataran menjadi pelatih itu teman-teman atletik. Jadi pas didirikan sekolah atletik seperti Carolina (sprinter) itu bilang 'Sudah kamu ikut penataran saja, tanggalnya ini ini,' gitu katanya," Eni menjelaskan.

Eni pun awalnya hanya coba-coba. Ternyata lulus, baik dari tingkat dasar, madya, hingga nasional. Setelah itu, Eni kemudian mengambil lisensi kepelatihan atletik dasar pada tahun 1985. Saat itu hanya ada dua level untuk bisa menjadi pelatih, paling tinggi lisensi level dua dan Eni sudah mendapatkannya.

"Level dua saat itu setara dengan level 4 saat ini. Di mana level 4 itu tujuannya untuk memberi penataran, kalau saya maunya jadi pelatih saja. Hahaha," katanya.




Pada 2006 Menjadi Pelatih Pelatnas

Setelah mendapat lisensi dalam prosesnya Eni dipercaya memegang Pemusatan Latihan Daerah untuk mempersiapkan PON 2004 di Palembang. Saat itu ia melatih untuk atlet DKI Jakarta.

Atletnya sukses menyumbang dua medali emas atas nama Ahmad Sumarsono Sakeh di nomor lomba 200 meter dan 400 meter, yang kini menjadi pelatih di Rawamangun.

Empat tahun berikutnya, Eni juga mempersiapkan untuk PON di Samarinda, Kalimantan Timur, juga meraih medali emas untuk tim estafet putri 4x100 meter.

Jauh sebelum PON Kaltim, ternyata Eni double job menjadi asisten pelatih Dikdik Jafar yang menangani Suryo Agung cs. Kemudian pada 2007, Dikdik mundur dan Eni menggantikan sebagai pelatih utama.




Dari Suryo Agung ke Lalu Muhammad Zohri

Bagi Eni menjadi pelatih adalah sebuah panggilan hidup. Dia pun tak memiliki cita-cita lain selain membuat atletnya agar berprestasi. Maka tak heran dia tak hanya belajar dari video-video yang ditonton, dia juga banyak membaca buku kepelatihan dasar-dasar atletik.

Di tangan dia juga, Suryo Agung sukses menjadi pelari tercepat Asia Tenggara. Sampai saat rekor catatan waktunya 10,17 detik belum terpecahkan selama 10 tahun.

Tak hanya Suryo, Eni juga berhasil mencetak atlet berbakat lainnya, Lalu Muhammad Zohri. Zohri merupakan juara dunia junior pada tahun lalu. Dia hanya kurang 0,1 detik dari rekor Suryo saat di Kejuaraan Dunia Junior Atletik 2018. Dia membukukan waktu 10,18 detik.

Eni juga memberi rekor baru setelah atlet didikannya, Zohri cs berhasil meraih medali perak di Asian Games 2018. Indonesia terakhir kali meraih medali perak nomor 4x100 meter putra pada 1966 di Bangkok, Thailand.

"Jadi dasarnya Suryo memang berbakat sekali untuk atletik. Nah, kan ada program untuk meningkatkan apa-apa. Saya ikuti aturannya saja dan Alhamdulillah mereka dengan tambah ini itu, dengan sesuai dengan mereka bisa lebih bagus dan dari dulu saja teknik lari sudah saya perhatikan," katanya.

"Zohri juga karena bakatnya saya kira. Artinya bakatnya memang bagus, bakat sprinter. Jadi memang harus yang seperti itu. Waktu saya tanya Zohri memang dari awal dia latihan main bola dan sering nanjak ke bukti. Ternyata ke bukit itu memang bagus jadi itu yang membuat langkah ketika kita lari itu lebih tinggi dan itu pengaruh karena tumpuannya jadi kuat dan panjang," tutupnya.




(mcy/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed