detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 09 Mei 2019 16:40 WIB

Kualifikasi Lebih Sulit, PABBSI Target Loloskan Lima Lifter ke Olimpiade 2020

Mercy Raya - detikSport
Eko Yuli Irawan (Agung Pambudhi/detikSport) Eko Yuli Irawan (Agung Pambudhi/detikSport)
Jakarta - Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI) bertekad meloloskan lima lifter ke Olimpiade 2020 Tokyo. Kualifikasi lebih berat dibanding sebelumnya.

Menyongsong Olimpiade 2020, angkat besi dituntut untuk lebih bekerja keras agar bisa lolos kualifikasi Olimpiade. Sebab, proses perhitungannya ke olimpiade tak lagi kuota negara, tapi sistem kualifikasi individu.

Lifter harus mengikuti sekitar enam sampai sembilan turnamen agar aman. Selain itu, lifter harus juga harus mengumpulkan robi point untuk menentukan peringkat atlet di akhir periode kualifikasi berdasarkan kelas yang diikuti.

Rosan Roeslani, ketua umum PB PABBSI, menyadari situasi itu. Dia pun menurunkan target kelolosan lifter ke Olimpiade 2020 dibandingkan saat tampil di Rio de Janeiro. Pada Olimpiade 2016 itu, PABBSI meloloskan tujuh lifter, yakni Sri Wahyuni, Dewi Safitri, Eko Yuli Irawan, Triyatno, M. Hasbi, Deni, dan I Ketut Ariana.


"Perkiraan kami kurang lebih lima lifter putra dan putri (yang lolos)," kata Rosan kepada detikSport, Kamis (9/5/2019).

Apalagi, PABBSI kehilangan dua lifter putri andalannya Sri Wahtuni dan Acchedya Jaggadhita. Mereka digantikan pemain muda berpotensi, satu di antaranya Windy Cantika Aisah.

"Ya, sekarang kan agak diubah sistemnya. Jadi untuk bisa berpartisipasi dalam olimpiade, mereka harus mengikuti pertandingan untuk kualifikasi. Kurang lebih sembilan pertandingan di luar negeri. Jadi, kualifikasinya jadi lebih ketat. Oleh sebab itu, kami ingin mengirim atlet yang berpotensi ini secara terus menerus dan kami insyallah atlet putra dan putri akan masuk di pentas olimpiade," ujar dia.

"Dan kembali lagi saya meyakini untuk mencapai maksimal sekali tak bisa instan. Apa yang saya lakukan adalah melakukan pelatnas lima tahun tanpa break. Jadi kami tingkatkan masalah gizinya, kami ambil dokter gizi, kami tingkatkan masalah kenyamanan mereka juga baik fisik maupun nonfisik," kata dia.

"Tapi, intinya proses pelatnasnya harus berkesinambungan. Jadi enggak bisa pada saat beberapa bulan sebelum pertandingan baru pelatnas. Tak bisa karena momennya naik turun, jadi kami pelatnaskan lima tahun," ujar dia.

"Bisa dilihat hasilnya, juara Asian Games, juara dunia, dan itu mereka raih di saat usia mereka sudah senja, tapi karena kita lakukan itu terus menerus. Jadi puncaknya kami ingin meraih medali emas olimpiade," dia menegaskan.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed