SEA Games 2005
Lagi-Lagi Soal Dana
Selasa, 06 Des 2005 03:45 WIB
Jakarta - Indonesia terpaksa pulang dengan kepala tertunduk setelah hanya menduduki posisi lima di SEA Games XXIII Manila. Haruskah alasan klise seputar keterbatasan dana dan kurangnya fasilitas kembali menjadi kambing hitam?SEA Games tahun ini memang menorehkan catatan sejarah baru bagi Indonesia. Sayangnya sejarah tersebut justru dalam hal yang negatif. Inilah peringkat terendah yang pernah diraih Indonesia dalam keikutsertaanya sepanjang 28 tahun di pesta olahraga milik negara-negara Asia Tenggara itu.Sebanyak 602 atlet dikirim ke Filipina untuk mengikuti 35 cabang olahraga dan terjun dalam 344 nomor yang dilombakan. Namun di akhir kompetisi, prestasi yang diraih justru berbanding terbalik dengan jumlah atlet yang dikirim. Hanya 48 medali emas (target 70 medali emas), 77 medali perak dan 86 perunggu yang bisa dibawa pulang. Jauh tertinggal dari tuan rumah Filipina yang merengkuh 114 medali emas, 82 perak dan 91 perunggu. Ini tentu sulit diterima jika kita menilik superioritas Indonesia atas tetangga-tetangganya di ajang yang sama beberapa tahun kebelakang.Deputi Pembinaan Olahraga Menegpora, Djohar Arifin, yang dihubungi detiksport, Senin (5/12/2005), enggan memberikan komentar seputar evaluasi kontingen Indonesia di Manila. Ia beralasan pihaknya masih menunggu laporan perwakilan KONI yang dikirim langsung ke Filipina untuk memberikan laporan hari Rabu (7/12/2005) besok."Kami masih menunggu laporan dari perwakilan KONI yang dikirim ke Manila hari Rabu nanti. Dari situ baru akan kita ketahui dengan pasti di mana kekurangan dibanding negara tetangga dan masalah yang kita miliki," sahut Djohar.Alasan yang terkesan klise juga dilontarkan Djohar saat ditanya faktor yang menjadi penghambat prestasi atlet nasional di berbagai event internasional, termasuk di ajang regional setingkat SEA Games. "Ada banyak faktor penghambat yang dihadapi KONI. Di antaranya adalah minimnya dana dan kurangnya fasilitas yang dimiliki. Penduduk kita 'kan banyak sementara fasilitas olahraga yang dimiliki sangat terbatas," sebut mantan sekjen KONI Pusat itu.Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas kegagalan ini? Mengembangkan olahraga nasional memang dituntut peran serta seluruh masyarakat. Tapi bukankah tugas otoritas olahraga nasional, dalam hal ini KONI, untuk me-manage seluruh potensi olahraga yang ada?"Kita tak bisa salahkan siapa-siapa atas hasil di Manila. Masalah olahraga ini adalah masalah bersama. Jadi mari kita sama-sama cari jalan keluarnya," dalih Djohar.Tahun depan kita sudah harus dihadapkan pada event yang lebih besar, yang pasti juga akan menjanjikan persaingan yang lebih berat, saat digelarnya Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Djohar memang mengungkapkan kalau KONI akan segera menanggapi hasil laporan hari Rabu nanti guna membuat persiapan lebih baik menghadapi Asian Games. "Kita akan langsung konsentrasi ke Asian Games tahun depan. Mudah-mudahan nanti kita bisa melebihi negara-negara asia tenggara."Tapi jika berkaca pada hasil di Manila, masih pantaskah kita berharap banyak dengan prestasi Indonesia di Qatar nanti? (din/)











































