Catatan SEA Games 2005
Jangan Sampai 'Tertipu' Lagi
Rabu, 07 Des 2005 13:01 WIB
Jakarta - Memasang target minimal dapat bertahan di peringkat ke-3 klasemen pengumpul medali terbanyak, kontingen Indonesia harus memendam kekecewaan yang mendalam pada SEA Games XXIII/2005 di Manila Filipina yang berakhir pada 5 Desember lalu. Pasukan Merah Putih, bukan hanya gagal bertahan di posisi tiga besar, namun juga membuat catatan kelam sepanjang keikutsertaan Indonesia di ajang SEA Games sejak 1977.Jika beberapa dekade terakhir, Indonesia sangat disegani dan termasuk raksasa dalam perhelatan olahraga terakbar se-Asia Tenggara. Kini prestasi atlet Indonesia harus terjun bebas hingga menyentuh level terendah sepanjang keikutsertaannya di SEA Games. Berada di posisi ke-5 klasmen pengumpul medali, di bawah tuan rumah Filipina, Vietnam, Thailand dan Malayasia, skuad "Indonesia Bangkit" tampaknya harus pulang dengan kepala tertunduk. Bermaterikan 779 atlet dengan 440 offisal, Indonesia merupakan kontingen terbesar ke-2 setelah tuan rumah Filipina yang menerjunkan 892 atlet dan hanya mendaftarkan 308 offisial. Bisa dibayangkan berapa miliar rupiah dana yang harus terbuang sia-sia, akibat pengurus KONI mau "dibohongi" oleh induk cabang olahraga yang telah memberikan data yang tak meyakinkan tentang peluang medali atlet kita di SEA Games XXIII. Padahal sebelumnya, KONI sendiri hanya akan memberangkatkan atlet yang berpeluang merebut medali ke Manila. Sekedar mengingatkan, berikut petikan komentar Wakil Ketua Umum KONI Pusat Djoko Pramono yang juga penanggung jawab kontingen saat dikonfirmasi detiksport sebelum keberangkatan kontingen ke SEA Games XXIII. "Yang pasti jumlah medali emas harus lebih dari SEAGames 2003 di Vietnam yakni 55 medali emas. Untuk posisi tidak akan menjadi masalah, namun harus tetap berada di posisi 3 besar," tegas Djoko. Ucapan seperti itu, dua tahun yang lalu juga pernah dilontarkan Djoko, saat memimpin pasukan Indonesia ke SEA Games XXII/2003 di Vietnam. Memasang target bertengger di posisi ke-2 dengan perolehan minimal 70 medali emas, kontingen Indonesia harus menanggung kekecewaan karena hanya menempati posisi ke-3 dengan perolehan 55 medali emas. Djoko yang kala itu masih menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Pusat sekaligus Chef de Mission kontingen Indonesia di SEA Games Vietnam, berkilah bahwa kegagalan mencapai target medali di Vietnam disebabkan banyak induk cabang olahraga atau PB yang memberikan data fiktif ke KONI. Seolah tak pernah belajar dari kegagalan sebelumnya, kini di SEA Games XXIII, KONI masih mau dibohongi lagi. Ironisnya, data tentang estimasi medali yang diberikan masing-masing PB, di SEA Games XXIII kali ini bukan hanya meleset tetapi jauh api dari panggang. Dengan kinerja PB yang masih kurang meyakinkan dan pengurus KONI yang tetap melempem meski berulang kali "ditipu", rasa-rasanya kita perlu khawatir terhadap masa depan prestasi olahraga Indonesia. Gagal di SEA Games memang bukan akhir dari segalanya, tetapi jika KONI kembali terperosok di lubang yang sama, bukankah menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan? (erk/)











































