Catat Sejarah di SEAG, Squash Ingin Lebih Merakyat

Catat Sejarah di SEAG, Squash Ingin Lebih Merakyat

- Sport
Senin, 12 Des 2005 19:39 WIB
Catat Sejarah di SEAG, Squash Ingin Lebih Merakyat
Jakarta - Sepanjang 12 tahun sejak cabang squash digulirkan di event SEA Games, baru kali ini Indonesia bisa mendapatkan medali perak. Menargetkan prestasi makin meningkat, PB PSI pun ingin squash lebih merakyat. Caranya?Dijelaskan oleh Ketua Umum PB PSI (Persatuan Squash Indonesia) Syarif Bastaman kepada wartawan, dengan prestasi kejutan dari squah di SEA Games XXIII, Filipina lalu membuktikan kalau olahraga raket ini bisa berbicara banyak di pentas dunia. Hanya saja kendala yang dirasakan adalah faktor kurangnya olahraga ini diminati oleh masyarakat Indonesia.Memang ada sebagian masyarakat yang menyukai squash, namun kalangan masyarakat ini berasal dari kalangan menengah atas. Cukup dimaklumi jika hanya masyarakat menengah atas saja yang menyukai squash. Bagaimana tidak, lapangan squash di Indonesia cuma hanya ada di tempat-tempat eksklusif dan bukan publik area. Seperti di hotel-hotel atau klub. Di Jakarta saja, yang bisa dinikmati masyarakat umum adalah lapangan squash yang berada di Kompleks Gelora Bung Karno Senayan. "Jadi bagaimana squash bisa diperhatikan, jika fasilitasnya saja itu bukan di tempat umum. Menjaring atlet itu kita harus meluas. Oleh karena itu, kita sangat ingin dukungan dari pemerintah maupun KONI untuk bisa membangun lapangan squash yang bisa dinikmati untuk umum. Lapangan squash itu tidak mahal, hanya sekitar Rp 200 juta," jelas Syarif di sebuah restoran di Senayan, Senin (12/12/2005). Keberhasilan tim squash Indonesia di Filipina seakan menjadi dorongan PSI untuk memasyarakatkan squash. Sebagai cabang yang diragukan mendapat medali, namun ternyata kontingen squash Indonesia bisa menyumbangkan 1 medali perak dan dua perunggu. "Kami ini minta berangkat saja sampai memaksa. Tetapi untunglah hasilnya memuaskan. Kita tidak menyangka bisa dapat perak, ini sejarah bagi squash Indonesia. Apalagi lawan-lawan kita di final adalah pemain-pemain Malaysia yang punya rangking dunia di kisaran 20," tutur Syarif.Lewat aksi Borman Subroto, Indonesia mendapat sumbangan 1 medali perak dari squash dan dua perunggu dari dua atlet putri yang merupakan kakak beradik, Feni Mukalu dan Juwita Mukalo. "Saya bangga dengan mereka. Sebab lawan yang dihadapi adalah Malaysia, yang dikenal jawaranya Squash di Asia. Kita itu hanya diangap sebelah mata mereka. Saya awalnya hanya menargetkan perunggu, kini setelah Borman mengalahkan salah satu pemain terbaik Malaysia, kita jadi diperhitungkan," tandasnya. Indonesia sendiri mendapat medali dari cabang squash di SEA Games 1997 dengan 3 perunggu. Kemudian di SEA Games 1999 dengan 1 perunggu dan di SEA Games 2001 dengan 2 perunggu. Sedangkan di SEA Games 2003 di Vietnam, cabang squash tidak dimainkan. Foto: Ketua Umum PB PSI Syarif Bastaman ingin ada lapangan squash di publik area (detiksport/erika) (erk/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads