Sentul Bisa Lebih Baik

Sentul Bisa Lebih Baik

- Sport
Senin, 13 Feb 2006 14:12 WIB
Jakarta - Berakhir sudah A1GP Indonesia, di Sirkuit Sentul 10-12 Februari 2006. Sukses pertama kali menggelar kompetisi kelas dunia balap mobil, mendapat pujian. Tetapi sesungguhnya Sentul bisa menjadi tuan rumah yang lebih baik.Inilah kompetisi balap mobil paling bergengsi yang pernah digelar Indonesia. Sebagian orang mungkin hanya memandang sebelah mata, karena jika dibandingkan dengan Formula 1, saat ini A1 memang masih kalah tenar. Wajar, karena A1 baru musim ini digelar. Tetapi inilah "Piala Dunia Balap Mobil". Bukan karir pembalap atau perusahaan yang dipertaruhkan, melainkan nama negara peserta.Kepercayaan yang diberikan FIA kepada Indonesia untuk menggelar A1 sangat pantas untuk disyukuri. Di saat gangguan keamanan masih menjadi isu utama di negeri kita, olahraga justru menjadi alat kampanye yang efektif untuk mengatakan kepada internasional bahwa Indonesia aman.Even seperti ini juga sudah sangat lama dinantikan oleh pecinta olahraga otomotif dalam negeri. Terakhir kali Sentul didatangi para pembalap kelas dunia yakni saat balap motor paling bergengsi GP 500cc tahun 1997, atau hampir satu dekade yang lalu. Setelah itu Sentul menjadi "saudara beda nasib" dengan Sepang milik Malaysia. Sama-sama dibangun anak penguasa di zamannya, dan disponsori perusahaan minyak milik negara, tetapi Sentul kemudian hilang dari peredaran sementara Sepang justru masuk kalender tetap F1 dan MotoGP.Namun harapan kita seperti yang diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, "Semoga dengan adanya A1GP Indonesia, olahraga tanah air bisa bangkit. Ini bukti bahwa kita mampu."Tidak fenomenal memang, namun pagelaran A1GP Indonesia mendapat pujian dari mereka yang menjadi lakon seperti pembalap dan manajer tim. "Sentul beda dibanding sirkuit lain. Banyak hal tak biasa ada di sini. Lintasannya cukup lebar sehingga mudah untuk menyusul. Aspalnya juga beda, agak aneh tetapi bukan berarti jelek. Adalah hal yang bagus jika tiap sirkuit memiliki ciri khas dan tantangan yang berbeda," ujar mantan pembalap F1 asal Brasil, Christian Fitipaldi."Penonton di sini sangat fantastis. Anda lihat bagaimana kerumunan tadi? Di beberapa tempat bahkan tidak seramai ini. Jika Anda punya penonton seperti ini, saya yakin selanjutnya akan lebih sukses. Anda juga punya pembalap yang hebat. Mikola pria yang berbakat. Setelah beberapa tahun kemudian, dia pasti bisa," tambah pembalap Australia, Marcus Marshall .Tak ada gading yang tak retak. Penyelenggaraan serta fasilitas teknis memang mendapat pujian dari tim serta pembalap. Tetapi Sentul seharusnya bisa lebih baik baik lagi.Bahkan sebelum mencapai sirkuit, pengunjung harus menghadapi kemacetan yang luar biasa. Hanya satu jam setelah gerbang dibuka, antrian keluar tol Sentul sudah mencapai 1km. Dengan hanya memiliki dua pintu, kemacetan pun semakin panjang. Jika panitia mengklaim A1GP Indonesia disaksikan langsung oleh 50 ribu penonton, melihat antrian yang terjadi jumlah mobil tidak kurang dari seperempatnya. Sebab mobil-mobil tidak hanya memenuhi tempat parkir sirkuit, tetapi juga terpaksa ditinggal di jalan tol. Akibatnya pengunjung harus berjalan kaki hingga kira-kira 3km untuk mencapai sirkuit di tengah terik matahari, atau mungkin tidak kalah buruknya jika cuaca hujan.Saking panjang dan padatnya antrian kendaraan, bahkan Presiden SBY pun harus berganti kendaraan dan dibonceng sepedamotor untuk mencapai sirkuit. Semahal waktu bahkan keselamatan presiden-kah harga yang harus dibayar untuk mengatasi masalah antrian kendaran?Sedikit mengintip Sepang, meski 120 ribu orang menonton langsung gelaran F1 tahun 2005 lalu, namun tidak terjadi kemacetan seperti di Sentul. Untuk mencapai tempat parkir terdapat beberapa pintu masuk. Namun itu bukanlah solusi satu-satunya, pengunjung juga diatur sedemikian rupa sehingga lebih memilih menggunakan bus untuk mencapai sirkuit. Jika satu bus diisi 40 orang, maka setidaknya sudah mengurangi 10 mobil pribadi.Setelah tiba di sirkuit, kenyamanan penonton juga kurang mendapat perhatian. Informasi seputar kompetisi yang sedang berlangsung sangat minim. Padahal penonton akan terpuaskan jika menantikan perlombaan sambil membahas data-data terbaru yang mereka peroleh, seperti hasil free practice, kualifikasi atau starting grid hingga informasi soal tim-tim yang ikut serta berisi nama pembalap dan lainnya. Tak heran jika banyak yang jenuh saat menunggu balapan, atau bahkan tidak tahu mobil tim mana yang melintas di depannya.Masalah klasik lain yakni soal kebersihan dan fasilitas umum seperti toilet juga terabaikan. Di kelas VIP tentunya tidak terjadi, tetapi di grandstand, penonton merasakannya. Padahal lama race day bisa mencapai delapan jam sejak acara pembukaan.Apapun, inilah warna baru Sentul yang sempat pudar cukup lama. Tentunya untuk kembali masuk kalender A1 tahun depan diperlukan perbaikan. Harapan kita, saat itu Sentul benar-benar siap menjadi tuan rumah yang sukses dan ramah. (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads